Perusahaan Tambang Grup Bakrie Bidik Proyek PLTU 1.800 MW di Sumsel

Perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tengah mengincar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumatera Selatan (Sumsel) 9 dan 10 berkapasitas total 1.800 megawatt (MW).
Head of Corporate Secretary & Investor Relations Darma Henwa, Mukson Arif Rosyidi mengatakan, saat ini perseroan tengah mengikuti tender yang diadakan oleh PLN, untuk proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2018-2019 tersebut.
"(Setelah akuisisi) Pendopo Energi Batubara, kita sedang dalam proses tender. Belum ada progres, masih menunggu dari PLN," kata Mukson di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta, Jumat (12/5).
Sebelumnya, Darma Henwa telah mengakuisisi saham milik PT DH Energy sebanyak 10 persen di Pendopo Coal Limited (PCL). Nilai transaksi pembelian yang dilakukan bulan lalu tersebut sekitar Rp 105,25 miliar.
Akuisisi Pendopo Coal karena perseroan melihat adanya potensi dari anak perusahaan PCL, yakni PT Pendopo Energi Batubara (PEB) yang memiliki prospek ke depannya. PEB berperan aktif dalam keikutsertaan tender pengembangan proyek Independent Power Producer/IPP atau PLTU mulut tambang, dan dalam hal ini PEB berperan sebagai penyedia energi batu bara.

Sementara itu, tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 72,1 juta dolar AS, yang akan digunakan untuk penambahan alat kerja di proyek existing.
"Sumber dana capex dari bank loan 41,9 juta dolar AS, dan sisanya dari vendor leasing dan internal cash," tutur Mukson.
Menurutnya, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi di proyek-proyek eksisting, yaitu Proyek Batubara Bengalon (Kalimantan Timur) milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), Proyek Batubara Asam Asam (Kalimantan Selatan) milik PT Arutmin lndonesia, Proyek Batubara Satui (Kalimantan Selatan), dari PT Cakrawala Langit Sejahtera, dan Proyek Jasa Pelayanan Pelabuhan PT Dire Pratama di Lubuk Tutung, Kalimantan Timur.
Untuk menjamin ketersediaan dana ekspansi produksi, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan memutuskan tidak ada pembagian dividen kepada pemegang saham, karena laba bersih 2016 akan digunakan untuk modal perseroan.
Adapun laba bersih perseroan sepanjang 2016 meningkat 18 persen menjadi 549,9 ribu dolar AS dari tahun sebelumnya yang mencapai 465,8 ribu dolar AS.
Kinerja operasional di tahun 2016 mengalami pertumbuhan yang tercermin dari kenaikan volume produksi lapisan penutup dan batu bara. Di tahun 2016, perseroan membukukan pendapatan sebesar 259,1 juta dolar AS atau meningkat 8 persen dari tahun sebelumnya sebesar 240,1 juta dolar AS.
