Kumparan Logo

Pesawat Garuda hingga Lion Air Ditarik Lessor, Maskapai di Ambang Kebangkrutan?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lion Air dan Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-hatta, Jakarta. Foto: AFP/Adek BERRY
zoom-in-whitePerbesar
Lion Air dan Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-hatta, Jakarta. Foto: AFP/Adek BERRY

Dunia penerbangan kian merasakan dampak merebaknya pandemi COVID-19. Sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia diketahui mulai mengembalikan pesawat kepada perusahaan persewaan (lessor).

Berdasarkan tangkapan radar, sebanyak 9 unit pesawat Garuda Indonesia terpantau terbang menuju Alice Spring, Australia. Aplikasi flightradar24 juga mencatat adanya 6 unit pesawat Lion Air Group terbang beriringan menuju Australia.

Apakah maskapai penerbangan makin mendekati ambang kebangkrutan?

Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center, Arista Atmaji menilai, bisnis penerbangan memang kian ngos-ngosan menghadapi dampak pandemi. Dampak tersebut menjadi semakin parah saat kebijakan PPKM diberlakukan.

kumparan post embed

Syarat bepergian menggunakan moda transportasi udara yang mesti mengantongi hasil tes PCR, membuat jumlah penumpang merosot tajam.

"Jumlah penumpang udara jatuh, drop sampai 70 persen dibandingkan tahun 2019 waktu normal. Dampak pandemi satu bulan terakhir PPKM level 4 pakai PCR, sehingga berat di ongkos di mana PCR bisa sampai Rp 1,3 juta," jelas Arista kepada kumparan, Minggu (8/8).

Arista mengatakan, sebelum pembatasan berjalan saja sudah banyak maskapai yang mengalami kerugian. Hal ini bahkan berimbas pada banyaknya karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja hingga ditawarkan pensiun dini.

Selain itu, sejumlah maskapai perintis juga mengalami mati suri. Pembatasan pergerakan masyarakat turut membuat maskapai-maskapai ni tidak sanggup untuk tetap beroperasi. Kondisi yang nyaris sama sebetulnya juga terjadi pada banyak maskapai di berbagai negara.

"Di Indonesia ada yang mati suri seperti Transnusa, Susi Air dan lain-lainnya. Di luar yang bangkrut seperti Thailand Airways, Philippine Airways," pungkas Arista Atmaji.