Kumparan Logo

Petani Bawang Merah di Nganjuk Antisipasi El Nino: Andalkan Sumur-Benahi Irigasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petani bawang merah yang tergabung dalam Gapoktan Karya Abadi Kecamatan Rejoso, Nganjuk. Foto: Moh Fajri/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petani bawang merah yang tergabung dalam Gapoktan Karya Abadi Kecamatan Rejoso, Nganjuk. Foto: Moh Fajri/kumparan

Petani bawang merah di Nganjuk, Jawa Timur, mulai mengantisipasi dampak El Nino terhadap keberlangsungan usaha yang mereka jalankan. Pembina Gapoktan Karya Abadi Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Bambang Suparno, menjelaskan tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup.

“Nah kita menghadapi El Nino kan kering, ketika kering pasti yang dibutuhkan air. Makanya dari sisi pemerintah dibangun, kemarin kita banyak ajukan proposal di daerah atau provinsi untuk irigasi yang tersumbat dibenahi,” kata Bambang di Rejoso, Nganjuk, Selasa (12/5).

Gapoktan Karya Abadi melakukan budidaya bawang merah pada lahan 400 hektare. Sistem bawang merahnya dalam satu tahun bisa 2 kali atau setiap 6 bulan sekali.

Kelompok tani tersebut menghasilkan 12.000 ton bawang merah per tahun. Jumlah itu juga membantu Nganjuk menjadi daerah yang banyak menyuplai bawang merah di Jawa Timur (Jatim).

Selain irigasi, Bambang menjelaskan pihaknya juga memaksimalkan sumur sibel atau sumur bor yang menggunakan pompa submersible atau celup untun mengambil air dari lapisan tanah dalam.

Bambang mengungkapkan pihaknya mendapatkan bantuan sumur tersebut dari Bank Indonesia. Selain itu, ia mengatakan pihaknya juga membangun 12 titik sumur sibel melalui anggaran desa.

Ilustrasi petani memanen bawang merah. Foto: Siswowidodo/ANTARA FOTO

“Di Kementerian PU ada sumur untuk pertanian fokusnya untuk ketahanan pangan padi, jadi kami enggak dapat. Untuk hortikultura kami berupaya dari berbagai rekanan, APBD desa juga,” ungkap Bambang yang juga menjabat sebagai kepala desa.

Bambang memastikan saat ini kebutuhan air masih bisa dipenuhi karena beberapa minggu belakangan di Nganjuk masih turun hujan. Ia memperkirakan dampaknya bakal terjadi pada akhir tahun. Kondisi itu kemungkinan ditambah dengan masalah pasokan BBM.

“El Nino terdampak terkuat kemungkinan bulan 9, 10, 11 kemarin kalau sekarang masih ada cadangan air masih hujan artinya baik ketersediaan air dari pompa diesel masih kuat,” terang Bambang.

“Tapi kalau diesel BBM, lagi susah, lagi perang. Ada edukasi agar beralih. Upaya kami kerja sama dengan PLN supaya listrik masuk sawah, supaya ada instalasi baru meski pembiayaannya masih banyak dari petani,” katanya.

instagram embed