Petani Sawit: Harga Jual Saat Ini Tak Menutup Biaya Produksi

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani di Provinsi Riau saat ini masih cukup rendah. Untuk satu kilogram (kg), Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Riau, Gulat Manurung, mengatakan TBS dijual seharga Rp 450 hingga Rp 850.
Harga ini dikatakan masih belum bisa menutup biaya produksi TBS yang menghabiskan sekitar Rp 850 per kg. Bahkan, ada para petani yang menjual di bawah harga produksi.
"Kan satu petani itu kadang harus menangani sebanyak 2 sampai 3 hektare lahan sawit. Itu kan hasilnya enggak bisa diangkut semuanya ke pabrik untuk dijual, karena mereka enggak punya truk. Makanya pengumpul yang kadang menjemput, sedangkan harga pengumpul itu sekitar Rp 450 sampai Rp 500 per kg," katanya saat dihubungi kumparan, Senin (26/11).
Otomatis, petani merugi dengan harga jual ini. Imbasnya, tak sedikit dari para petani tadi yang beralih profesi untuk memenuhi hidup.
"Ini sudah berlangsung selama 8 bulan. Banyak petani yang menghubungi saya untuk minta tolong karena mereka sudah menggadaikan semua barang untuk dapat uang pinjaman demi hidup," tambah Gulat.
Untuk itu, Gulat mengatakan agar pemerintah segera mencari solusi untuk permasalahan ini. Semakin lama dibiarkan, dia memperkirakan akan semakin banyak petani yang terdampak lesunya harga CPO di tingkat dunia.

"Sekarang saja cuma tinggal 312 ribu petani yang produktif dari yang tercatat sekitar 514 ribu," tutupnya.
Mengutip data Bursa Komoditas dan Derivatif Malaysia, harga CPO untuk pengiriman Februari 2019 hanya 1.960 ringgit Malaysia per ton atau sekitar USD 460 per ton. Ini merupakan harga terendah sejak 2015. Bahkan beberapa hari lalu, harga sempat menyentuh USD 450 per ton.
Tekanan harga CPO membuat harga pembelian TBS sawit di wilayah Sumatera juga rontok hingga di bawah Rp 1.000 per kg. Di sejumlah perkebunan di Sumatera Utara dan Riau, sawit petani bahkan hanya laku Rp 700 per kg.
Akibatnya banyak petani membiarkan sawitnya busuk di pohon, karena ongkos panen lebih mahal daripada harga jual.
