Kumparan Logo

Peternak Sapi Diminta Tak Panik soal Wabah PMK, Begini Cara Menghadapinya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobilisasi sapi hidup dari peternak lokal untuk kebutuhan daging sapi di Jabodetabek. Foto: Badan Pangan Nasional
zoom-in-whitePerbesar
Mobilisasi sapi hidup dari peternak lokal untuk kebutuhan daging sapi di Jabodetabek. Foto: Badan Pangan Nasional

Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) sudah menyiapkan langkah mengatasi Penyakit Mulut Kuku (PMK) yang telah menyerang 1.247 sapi di Jawa Timur (Jatim). Ketua Umum PPSKI, Nanang Purus Subendro, meminta para peternak tidak panik.

Meski begitu, Nanang tidak menampik kalau wabah PMK sangat menular dan bisa menyerang hewan berkuku belah atau artiodactyla seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.

“PPSKI mengimbau agar seluruh peternak sapi atau kerbau untuk tidak panik dan melakukan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian dengan meningkatkan biosecurity di peternakan,” kata Nanang melalui keterangan resmi PPSKI, Senin (9/5).

Nanang mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan panduan bagi peternak agar tidak panik dengan adanya PMK. Pertama, tidak memasukkan ternak baru terutama dari daerah wabah. Kedua, tidak mengunjungi peternakan lain terutama peternakan-peternakan di daerah wabah.

“Ketiga, membatasi lalu lintas orang yang keluar masuk lokasi kandang. Keempat, tempat pakan dan minum tidak bercampur. Kelima, penyemprotan kandang, kendaraan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan desinfektan yang efektif,” ujar Nanang.

Peternak menunggui sapi miliknya yang dijual di pasar hewan, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (1/3/2022). Foto: Ari Bowo Sucipto/ANTARA FOTO

Keenam, tidak melakukan panic selling karena tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah yaitu 1 sampai 5 persen, tetapi pada sapi, domba, dan babi berusia muda cukup tinggi hingga 20 persen. Ketujuh, tingkatkan imunitas ternak dengan memperbaiki pakan dan terapi suportif seperti vitamin dan mineral agar ternak mampu melawan virus PMK.

Di poin ke delapan, Nanang menegaskan kalau PMK bukan merupakan penyakit zoonosis atau menular dari hewan dan manusia, tetapi sangat mudah menular ke sesama hewan. Partikel virus ditemukan pada udara yang diembuskan hewan terinfeksi, air liur, air susu, urine, tinja, semen, cairan dari vesikel, hingga cairan amnion dari janin domba teraborsi.

“Virus PMK dapat masuk ke tubuh hewan peka melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi terutama melalui aerosol dan dengan benda-benda terkontaminasi seperti pakaian, sepatu, dan kendaraan,” terang Nanang.

Terakhir, Nanang meminta peternak segera melaporkan jika ada ternak yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada PMK pada petugas peternakan setempat. Ciri khas PMK adalah munculnya lepuh (vesikel) dan erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut baik di gusi maupun pipi bagian dalam, di sela kuku, dan di puting.

“Tanda klinis lain yang sering ditemukan yakni demam sekitar 40 derajat celcius, depresi, hipersalivasi atau keluarnya air liur secara berlebihan, penurunan nafsu makan, berat badan, dan produksi susu, serta hambatan pertumbuhan,” tutur Nanang.