Kumparan Logo

Peternak Sapi Lokal Minta Produksinya Diserap, Begini Tanggapan Bulog

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tiga ekor sapi yang mengalami penurunan berat badan akibat terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di karantina oleh peternak di Desa Jeulekat, Lhokseumawe, Aceh, Rabu (25/5/2022). Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
zoom-in-whitePerbesar
Tiga ekor sapi yang mengalami penurunan berat badan akibat terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di karantina oleh peternak di Desa Jeulekat, Lhokseumawe, Aceh, Rabu (25/5/2022). Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa

Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) meminta agar Perum Bulog menghentikan impor daging kerbau India. Sebagai gantinya Bulog dapat bekerja sama dengan peternak lokal untuk bisa menyerap produksi dari peternak lokal.

Ketua Umum PPSKI Nanang Purus Subendro mengatakan, hal tersebut bisa membantu peternak lokal di samping juga untuk mengantisipasi penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) lebih luas lagi.

Pasalnya, wabah PMK di Indonesia berimbas pada jatuhnya harga daging sapi di mana sebelumnya harga karkas daging sapi semula Rp 110.000 per kg kali ini menjadi hanya Rp 60.000 sampai Rp 70.000 saja.

Menanggapi hal itu, Kabag Humas Perum Bulog, Tomi Wijaya mengatakan kesiapannya. Dia menegaskan bahwa Bulog siap bekerja sama dengan pihak manapun untuk pemenuhan kebutuhan pangan domestik.

Kendati begitu, Tomi mengatakan hingga saat ini belum ada penugasan dari regulator terkait permintaan dari PPSKI itu.

“Perlu diketahui bahwa Bulog hanya operator yang melaksanakan penugasan dari regulator. Regulator tentunya menugaskan Bulog dengan pertimbangan untuk pemenuhan stok komoditas tertentu agar stabilitas terjaga,” kata Tomi kepada kumparan, Sabtu (11/6).

Adapun soal permintaan PPSKI agar Bulog menyetop impor daging kerbau India karena terindikasi membawa virus PMK, Tomi mengatakan bahwa kebijakan impor diambil oleh pemerintah dengan pertimbangan produksi dalam negeri yang berkurang.

“Kalau kebijakan itu tidak diambil mungkin Ramadhan dan Idul Fitri kemarin harga daging pasti tidak stabil,” ujarnya.