Kumparan Logo

PGE Raup Laba Bersih USD 79,6 Juta Kuartal II 2026, Tumbuh 15,48 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Di tengah pandemi, produksi setara listrik geothermal Pertamina tahun 2020 lebih tinggi 14 persen dari target. Foto: Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Di tengah pandemi, produksi setara listrik geothermal Pertamina tahun 2020 lebih tinggi 14 persen dari target. Foto: Pertamina

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menutup kuartal II 2026 dengan laba bersih USD 79,6 juta, naik 15,48 persen dari pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Mengacu pada laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, perseroan pendapatan sebesar USD 235,027 juta, tumbuh 14,7 persen secara year on year (yoy) dibandingkan USD 204,850 juta pada kuartal II 2025.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan produksi. Hingga semester I 2026, total produksi PGE mencapai 2.745 GWh, meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh.

“Pertumbuhan pendapatan tersebut juga tercermin pada laba bersih perseroan yang naik 15,48 persen secara tahunan menjadi USD 79,607 juta, ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) serta keuntungan selisih kurs yang positif," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7).

Dari segi permodalan, ekuitas perseroan tercatat sebesar USD 2,006 miliar pada kuartal II 2026, mencerminkan pondasi keuangan yang sehat dengan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban sekaligus menghasilkan laba. Total aset perseroan mencapai USD 2,967 miliar, serta kas dan setara kas USD 656,634 juta.

Sementara liabilitas perseroan justru turun 2,80 persen dibandingkan 31 Desember 2025 menjadi USD 961,184 juta, berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan perseroan.

Jelang 100 Tahun Panas Bumi

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan panas bumi bersifat bersih, andal dan baseload, sehingga cocok untuk menopang sistem kelistrikan di tengah transisi energi. Tahun 2026 menandai 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia.

“Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami," tuturnya.

Perkembangan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) turut menunjukkan arah yang semakin positif. Hal ini tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025 hingga 2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) selama periode tersebut.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033. Saat ini, perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.

PGE juga mencatatkan kinerja unggul dalam aspek keberlanjutan dengan meraih peringkat ESG tertinggi di Indonesia, yakni skor 7,1 dari Sustainalytics. PGE menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.