PGEO Raup Laba USD 79,60 Juta per Kuartal II 2026, Naik 15,48%

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat laba bersih perseroan meningkat pada kuartal II 2026. Adapun laba bersih mencapai USD 79,60 juta hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh 15,48 persen secara year on year (yoy).
Angka tersebut juga naik dari kuartal I 2026 yang mencatat laba bersih sebesar USD 43,899 juta. Sementara itu, secara keseluruhan pendapatan PGEO pada kuartal II mencapai USD 235,027 atau tumbuh 14,7 persen secara yoy.
"Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif," kata Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam keterangan tertulis, Senin (5/10).
Adapun struktur permodalan PGEO juga tercatat mencapai USD 2,006 miliar, sementara liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan akhir 2025 menjadi USD 961,184 juta.
Sementara dari sisi produksi, hingga 31 Juli 2026 total produksi PGEO mencapai sekitar 3.222 gigawatt hour (GWh) atau naik 12,7 persen dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu. Hal itu menjadi rekor produksi tertinggi PGEO selama ini.
“Dengan capaian ini, pendapatan dari operasi milik sendiri diproyeksikan terus meningkat secara tahunan, ditopang volume penjualan listrik dan uap yang lebih tinggi. Untuk keseluruhan 2026, PGE menargetkan produksi 5.255 GWh, naik dari 5.095 GWh pada 2025,” ujarnya.
Secara konsolidasi, capacity factor PGEO juga naik menjadi 90,62 persen dari 87,78 persen, availability factor meningkat menjadi 99,51 persen dari 99,13 persen, dan tingkat gangguan turun menjadi 0,15 persen dari 0,22 persen.
Sedangkan untuk sisi keberlanjutan, PEGO hingga Juli 2026 telah menghindarkan emisi sebesar 2.327.905 ton CO2e dibandingkan pembangkit berbasis batu bara dengan intensitas emisi jauh di bawah ambang batas Taksonomi Uni Eropa sebesar 100 gram CO2e/kWh.
Ke depan, PGEO juga akan mempercepat pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatera Selatan, masing-masing berkapasitas 55 MW. Hal itu dilakukan usai persetujuan Final Investment Decision (FID) pengembangan Unit 3 pada kuartal I 2026 telah disetujui. Selain itu, proyek tersebut juga masuk ke Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas.
Selain PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, proyek lainnya juga terus bergerak. Salah satunya adalah tarif proyek Lahendong Low Pressure (15 MW) yang telah disepakati pada April 2026.
Sementara itu, proyek co-generation berkapasitas total 230 MW ditargetkan bisa mencapai tahap penandatanganan PPA pada kuartal IV 2026. Di Ulubelu, proyek Gunung Tiga juga dijadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dengan target COD pada 2029.
