kumparan
search-gray
Bisnis13 September 2018 8:43

PGN Belum Bisa Turunkan Harga Gas untuk Industri Keramik

Konten Redaksi kumparan
PGN Belum Bisa Turunkan Harga Gas untuk Industri Keramik (829294)
Persiapan PT Nusantara Regas Pastikan Pasokan Gas Untuk Listrik Di Jakarta Aman, jelang Asian Games 2018 (16/8/18). (Foto: PT Nusantara Regas)
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memukul industri keramik. Sebab, salah satu bahan baku untuk membuat keramik, yaitu gas, harus dibeli dalam bentuk dolar AS. Saat ini, harga gas untuk industri keramik sekitar USD 9,5-11 sen per kubik.
ADVERTISEMENT
Terkait hal itu, Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Danny Praditya belum bisa langsung merespons dengan menurunkan harga gas.
“Kita belum (bisa). Belum lihat hasil akhirnya. Kita mengikuti apa yang sudah ditetapkan Permen 58 Tahun 2017 yang InsyaAllah pelaksanaannya tahun depan. Kita lagi diskusikan,” kata dia kepada kumparan, Kamis (13/9).
PGN sendiri, setelah tergabung dalam holding BUMN migas, memiliki rencana jangka panjang untuk menggabungkan infrastruktur jaringan dan penyaluran gas bumi ke konsumen, baik itu industri atau rumah tangga. Jalan mereka semakin lebar setelah perusahaan berhasil mengakuisisi anak usaha Pertamina di bidang gas, PT Pertamina Gas (Pertagas) beberapa bulan lalu.
PGN Belum Bisa Turunkan Harga Gas untuk Industri Keramik (829295)
Toko keramik Centro Keramik Batu Alam di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat (9/9). (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Sebelumnya, konsultan marketing Centro Keramik Batu Alam, salah satu produsen keramik dalam negeri, Herman membeberkan, salah satu bahan baku yang dibeli produsen keramik adalah gas alam. Gas ini digunakan bukan untuk bahan bakar tapi bahan baku pembuatan keramik.
ADVERTISEMENT
Di dalam negeri, gas-gas untuk industri dipatok dengan harga USD 9,5 sen per metrik kubik. Angka ini terbilang sangat mahal. Dia mengusulkan agar harga gas industri bisa turun.
Herman mengaku dari asosiasi kerap menyuarakan mahalnya harga gas untuk bahan baku keramik. Tapi dari pemerintah masih belum merespons. Padahal, gas untuk industri keramik dibeli di dalam negeri, tapi produsen membelinya dengan dolar AS.
“Maunya harga gas turun, minimal USD 7 sen per kubik. Kita udah sampaikan ke pemerintah, ke Kementerian Perindustrian. Tapi hasilnya 2 tahun mandek enggak ada kabar. Bahan bakunya pakai dolar, kita jual produknya pakai rupiah, bagaimana coba?” tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white