Kumparan Logo

PHR Ungkap Seretnya Pasokan Listrik dan Gas Hambat Produksi Blok Rokan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil kunjungi Blok Rokan, Rabu (5/2/2025). Foto: Kementerian ESDM
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil kunjungi Blok Rokan, Rabu (5/2/2025). Foto: Kementerian ESDM

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan masalah pasokan listrik dan gas menjadi salah satu hambatan terbesar kinerja produksi minyak dari Blok Rokan sepanjang tahun 2025 ini.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Regional Sumatra, Ruby Mulyawan, menyebutkan realisasi produksi minyak Blok Rokan hingga 10 November 2025 sebesar 151.039 barel per hari (BOPD)

"Outlook kami akan upayakan lebih tinggi lagi sedikit, tapi karena memang tinggal sisa dua bulan jadi 151.400 ribu barel. Mudah-mudahan bisa dipertahankan sampai Desember," ungkapnya saat Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR, Rabu (12/11).

Ruby menjelaskan, permasalahan yang dihadapi PHR tentunya cuaca dengan curah hujan dan petir yang tinggi biasanya menimbulkan banjir di kawasan Blok Rokan, yang akhirnya menimbulkan penurunan produksi.

Namun, dia menyebutkan salah satu hambatan utama adalah terkait kelistrikan imbas penutupan besar-besaran (major shutdown) pembangkit PT PLN (Persero) yang memasok listrik ke Blok Rokan.

"Listrik yang disediakan dari unit yang dikelola oleh PLN itu ada empat kali major shutdown sehingga produksi itu turun, dan kemudian bisa dilihat di sini pelan-pelan naik lagi, tapi kemudian turun lagi. Kami sudah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya di tahun depan," tutur Ruby.

PHR, lanjut dia, mengantisipasi masalah keandalan listrik ini dengan mengoperasikan unit co-generation dengan lebih stabil ke depannya. Selain dari PLN, pasokan listrik Blok Rokan juga disalurkan PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN).

"Kemudian untuk listrik juga kami sedang bekerja erat dengan supplier listrik yaitu PLN terkait dengan pengoperasian unit co-generation tadi untuk lebih reliable ke depannya," ungkap Ruby.

Kemudian masalah yang kedua yakni keterbatasan pasokan gas. Ruby menyebutkan Blok Rokan memerlukan gas sekitar 210-220 BBTUD untuk menghasilkan listrik dan uap (steam) 360 ribu barel per hari.

"Sejak November 2024, kami itu shortage (kekurangan) sekitar 20-25 BBTUD, sehingga ada LPO sampai perjalanannya hari ini masih di sekitaran 2.500-an barrel oil per day, artinya kalau gas itu bisa didapatkan cukup, tentu kita bisa meningkatkan produksi mungkin di 2.500," jelas Ruby.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Regional Sumatra, Ruby Mulyawan. Foto: Youtube/TVR PARLEMEN

Ruby memastikan kedua masalah tersebut dapat teratasi pada tahun depan, sehingga proyeksi produksi sebesar 154.000 BOPD bisa tercapai. Target ini sudah mempertimbangkan rencana shutdown Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang sebagai pemasok gas ke Blok Rokan.

"Ada dua rencana planned shutdown PHE Jambi Merang, salah satu penyuplai gas yang cukup besar ke Rokan. Jadi kalau mereka gasnya berkurang, berarti listrik dan steam berkurang lagi. Kami berusaha mencari titik optimum dan mungkin bisa sedikit menghilangkan dampak produksinya," tuturnya.

Dengan begitu, PHR tengah mencari alternatif produsen gas di sekitar Blok Rokan. Adapun produsen gas seperti Blok Corridor yang dikelola Medco E&P, Pertamina EP, dan Petrochina International Jabung, juga memasok untuk kebutuhan sektor industri.

"Sementara produksi-produksi dari supplier, dari Corridor, dari Jambi Merang, dari Jabung itu tentu ada natural decline seperti yang disampaikan tadi. Kami terus berupaya dengan para supplier mencari peluang-peluang untuk peningkatan gas," jelas Ruby.

instagram embed