Pidato Kenegaraan Jokowi: Membangun Infrastruktur, Membangun Peradaban

Pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sidang Tahunan MPR, salah satunya menyoroti pembangunan infrastruktur. Dalam pernyataannya, Jokowi mengoreksi anggapan bahwa membangun infrastruktur hanya bersifat fisik semata.
“Dalam hal ini, banyak yang masih salah pengertian bahwa ketika kita membangun infrastruktur fisik seperti jalan tol, bandara, dan juga MRT, LRT, dilihat hanya dari sisi fisiknya saja. Padahal sesungguhnya kita sedang membangun peradaban,” kata Jokowi di Gedung Parlemen, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (16/8).
Dia menambahkan, pembangunan infrastruktur fisik harus dilihat sebagai cara untuk mempersatukan kita, mempercepat konektivitas budaya yang bisa mempertemukan berbagai budaya yang berbeda di seluruh Nusantara.
Mengutip data APBN dalam lima tahun terakhir, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur terus meningkat, baik secara persentase maupun nominalnya. Jika dalam APBN 2014 alokasi anggaran infrastruktur sebesar Rp 178 triliun (8,7 persen), maka dalam APBN 2018 anggarannya naik hampir dua setengah kali lipat menjadi Rp 410 triliun (18,5 persen).
“Mulai tahun pertama pemerintahan, kita membangun fondasi yang kokoh untuk menuju Indonesia yang lebih maju. Karena itu, Pemerintah fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur serta peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa,” ujar Jokowi.
Menurut Presiden, percepatan pembangunan infrastruktur bukan hanya untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan dengan negara lain. Tapi untuk juga menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru, yang mampu memberikan nilai tambah bagi daerah-daerah di seluruh penjuru tanah air.
Itulah sebabnya, kata Jokowi, infrastruktur tidak hanya dibangun di Jawa. Tapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia. Hal itu dilakukan, karena Presiden menyatakan Indonesia harus tumbuh bersama. “Kita harus sejahtera bersama, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

