PLN Bisa Dapat Listrik Murah dari Tenaga Surya, Begini Caranya

Institute for Essential Services Reform (IESR) telah mengkaji potensi penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atas tanah maupun atap. Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan, dari kajian yang dilakukan, PLTS berpotensi besar dalam memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia dari energi terbarukan.
Agar listrik dari PLTS bisa dijual murah ke PLN, IESR mendorong penggunaan skema lelang terbalik dalam pengadaannya.
“Kami merekomendasikan agar pemerintah dan PLN menerapkan skema pengadaan lelang terbalik atau reserve auction untuk pengadaan PLTS skala besar. Idealnya untuk kapasitas di atas 100 MW,” kata Fabby di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa, (30/7).
Kata Fabby, metode lelang terbalik terbukti cukup efektif dalam meningkatkan kompetisi di antara para pengembang sehingga membuat harga listrik dari PLTS yang ditawarkan semakin murah tanpa merusak keekonomian proyek. "Dengan demikian, PLN bisa mendapatkan harga listrik dari energi surya yang rendah dan bersaing,” tambahnya.
Sesuai namanya, lelang terbalik adalah kebalikan dari lelang biasa. Lazimnya pemenang lelang adalah pembeli yang menawar harga tertinggi. Dalam lelang terbalik, pemenangnya adalah yang penjual menyodorkan harga paling rendah.
“Jadi harganya serendah-rendahnya untuk jual listriknya. Jadi kalau misalnya sekarang jual ke PLN sudah ditentukan harga batasan atasnya, nah lelang terbalik itu modelnya serupa tapi kita mendorong kompetisi,” terang Marlistya.
“Jadi supaya banyak orang yang ikut lelang siapa harganya paling terendah. Misalnya saya bisa menghasilkan listrik surya dengan harga USD 2 sen per kWh bisa dipilih. Tapi semuanya ada syarat-syarat supaya jangan asal murah saja,” tambahnya.
Marlistya menuturkan, lelang terbalik sudah pernah dipraktekkan di Brasil, Uni Emirat Arab, India, sampai Meksiko. Menurutnya, dari lelang terbalik itu harga listrik energi surya bisa jadi murah.
Dari kajian yang dilakukan IESR pada bangunan rumah di 34 provinsi, potensi teknis listrik surya atap atau rooftop solar mencapai 194 sampai 655 Gigawatt-peak (GWp). Dari jumlah total rumah tangga di Indonesia, terdapat 17,8 persen yang memiliki kemampuan finansial untuk memasang perangkat listrik surya atap yang diperkirakan dapat mencapai kapasitas 34 sampai 116 GWp.
Menurut IESR, potensi listrik energi surya harus dioptimalkan sebagai solusi penyediaan energi yang berkelanjutan.
