Kumparan Logo

PLN Butuh Investasi Pembangkit Panas Bumi Rp 44 Triliun per 1 GW

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PLTP Kamojang yang dioperasikan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Foto: Dok PGE
zoom-in-whitePerbesar
PLTP Kamojang yang dioperasikan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Foto: Dok PGE

PT PLN (Persero) membutuhkan investasi sekitar USD 2,7 miliar atau setara Rp 44 triliun untuk membangun 1 gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat dengan potensi 23,6 GW, dan saat ini sudah terbangun PLTP sebesar 2,3 GW.

Menurut dia, terdapat perbedaan mendasar dari sisi investasi pembangkit bahan bakar fosil dengan pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Dia mencontohkan, pembangkit gas investasinya rendah hanya USD 0,5 miliar, namun biaya operasionalnya mahal.

"Sedangkan untuk panas bumi, kami melihat historical untuk satu gigawatt biaya investasinya sekitar USD 2,7 miliar. Jadi lebih mahal memang investasinya, tetapi biaya operasinya itu jauh lebih murah," jelasnya saat rapat dengan Komisi XII DPR, Rabu (14/5).

Demikian pula dengan PLTA, lanjut Darmawan, biaya operasinya lebih murah karena tidak ada biaya bahan bakar. Sedangkan pembangkit gas terdapat biaya bahan bakar yaitu berbentuk pembelian gas.

Dengan begitu, dia menyebutkan pengembangan PLTP membutuhkan investasi yang cukup besar di awal untuk kegiatan eksplorasi, kemudian pengembangannya, serta penambahan pembangkit.

"Tetapi setelah itu energinya setengah gratis, rendah sekali. Untuk itu, dalam hal ini front loaded investment itulah karakter dari investasi di pembangkit panas bumi," ungkap Darmawan.

Suasana PLTP Patuha di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Darmawan mengatakan, PLN bersama mitra ini telah membangun portofolio PLTP dengan kapasitas terbesar kedua di dunia, yaitu 2,3 GW. Berikut daftar lengkap PLTP yang sudah beroperasi.

1. Kamojang 240 MW (PGE/PLN)

2. Sibayak 12 MW (PGE/PLN)

3. Salak 360 MW (Star Energy/PLN)

4. Darajat 255 MW (Star Energy/PLN)

5. Wayang Windu 220 MW (Star Energy)

6. Lahendong 120 MW (PGE/PLN)

7. Ulubelu 220 MW (PGE/ PLN)

8. Mataloko 2,5 MW (PLN)

9. Ulumbu 10 MW (PLN)

10. Dieng 55 MW (Geo Dipa)

11. Patuha 55 MW (Geo Dipa)

12. Sarulla 330 MW (SOL)

13. Karaha 30 MW (PGE)

14. Lumut Balai 55 MW (PGE)

15. Sorik Marapi 167 MW (PT SMGP)

16. Muara Laboh 80 MW (PT SEML)

17. Rantau Dedap 86 MW (PT SERD)

18. Sokoria 8 MW (PT SGI)

Target PLTP dalam Draft RUPTL Baru

Darmawan mengatakan, dalam draft RUPTL terbaru untuk periode 2025-2034, PLN merencanakan target pengembangan panas bumi sebesar 5,1 GW, mayoritas porsinya untuk pembangkit swasta (IPP).

"Dalam hal ini porsinya PLN hanyalah 11 persen, kemudian porsi dari pengembang swasta ini 89 persen sekitar 4,5 gigawatt," jelasnya.

Dia menyebutkan terdapat ada tiga tahapan dalam pengembangan panas bumi tersebut. Pertama sumber daya atau resources sebelum dilakukan eksplorasi, sehingga belum bisa teridentifikasi risikonya yang sangat tinggi.

Kemudian begitu kegiatan eksplorasi selesai, maka resources berubah menjadi potensi cadangan atau reserve yang sudah terukur dari sisi suhu uap hingga besaran kapasitasnya dengan akurat.

"Kemudian baru kemudian bergerak menjadi ke production. Tentu saja mengubah resources menjadi reserve ini risikonya yang paling tinggi, karena exploration drilling tingkat suksesnya hanya sekitar 30-40 persen, jadi 60 persennya akan gagal," kata Darmawan.

instagram embed