Kumparan Logo

PLN Impor Listrik dari Malaysia Sejak 2016, Kapan Ekspornya?

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tiang listrik. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tiang listrik. Foto: pixabay

Sejak 2016, pemerintah harus mengimpor listrik dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan penerangan di Kalimantan Barat. Pembelian listrik dilakukan antara PT PLN (Persero) dari pembangkit listrik BUMN asal Malaysia yaitu Serawak Electricity Supply Corporation (SESCO).

Listrik yang dialirkan dari Malaysia ke Kalimantan Barat melalui interkoneksi Jaringan Listrik Kalimantan barat-Serawak yaitu Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV) sirkit 1 antara Gardu Induk tegangan Extra Tinggi (GITET) Bengkayang dan GITET Mambong.

Dalam kerja sama kedua negara ini, PLN tidak terus-terusan mengimpor listrik dari Malaysia. Perseroan juga memungkinkan mengekspor listrik ke negeri Jiran jika pembangkit listrik yang dibangun di Kalimantan Barat sudah selesai sesuai perjanjian yang berlaku selama 25 tahun atau hingga 2041.

Lantas kapan PLN mulai ekspor listrik ke Malaysia?

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mengatakan impor listrik dari Sistem Serawak direncanakan berakhir pada akhir tahun ini. Skema impor dilakukan sebagai antisipasi keterlambatan proyek PLTU di Kalbar.

Setelah tahun ini, skema diganti dengan energy exchange yang memanfaatkan perbedaan waktu beban puncak antara sistem Khatulistiwa di Kalimantan Barat dengan sistem kelistrikan Serawak.

"Skema ini memungkinkan sistem tersebut untuk mengimpor listrik pada waktu beban puncak dan mengekspor listrik di luar waktu beban puncak," kata Rida dalam keterangan tertulis, Selasa (26/1).

Selain itu, PLN juga telah merencanakan beberapa pembangkit yang akan dibangun di Kalimantan Barat untuk memenuhi kebutuhan listrik di sana.

Ilustrasi perbaikan listrik di menara SUTET. Foto: Dok. PLN

Di sisi lain, PLN sebenarnya tengah mengalami kelebihan pasokan dari pembangkit-pembangkit besar karena konsumsi listrik masyarakat turun di masa pandemi. Sektor bisnis dan industri yang biasanya menjadi konsumen terbesar PLN, selain rumah tangga, mengurangi konsumsi listrik mereka seiring pembatasan aktivitas saat ini.

Pemerintah juga berencana ekspor listrik ke Singapura

Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, ekspor listrik ke Singapura bisa dikirimkan melalui jaringan transmisi antar pulau. Pasokan listrik di Jawa bisa disambungkan ke jaringan Sumatera-Riau. Dari situ, akan dikirim ke Singapura.

"Kita punya potensi (ekspor) antara lain ke Singapura. Kita lagi jajaki nanti kita sambung Jawa-Sumatera, Sumatera-Riau, Riau-Singapura. Kita juga bisa masuk ke Asean Grid dari Sumatera ke Peninsula-Malaysia, sedang dalam proses penjajakan. Kalau itu bisa dilaksanakan kita bisa menyalurkannya," kata Arifin dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (19/1).