PLN: Jawa-Bali Crossing Bengkak Rp 3 T Jika Dibangun di Bawah Laut

19 Maret 2018 15:56 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:10 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Transmisi listrik (ilustrasi). (Foto: Dok. PLN)
zoom-in-whitePerbesar
Transmisi listrik (ilustrasi). (Foto: Dok. PLN)
ADVERTISEMENT
Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) berkapasitas 500 kV yang menghubungkan sistem kelistrikan di Jawa dan Bali (Jawa-Bali Crossing/JBC) terhambat karena belum mendapat restu dari Pemerintah Daerah (Pemda) Bali dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
ADVERTISEMENT
SUTET 500 kV Bali Crossing sebenarnya bertujuan memperkuat pasokan listrik ke Bali. Ada surplus listrik yang besar di Jawa Timur, ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata di Bali. Dengan adanya perluasan transmisi 500 kV, PLTU di Jawa Timur bisa menyuplai ke Bali.
Sebagai alternatif, kini PLN mengkaji pembangunan kabel bawah laut untuk mentransfer surplus listrik dari Jawa ke Bali. Namun, alternatif ini membutuhkan biaya investasi lebih besar.
Jika dilakukan lewat udara, biaya proyek JBC sebesar Rp 4,9 triliun termasuk untuk pembangunan dua tower raksasa senilai Rp 1,4 triliun. Bila dibangun di bawah laut, biaya yang diperlukan untuk membuat terowongan kabel saja bisa sekitar Rp 3-5 triliun.
Belum lagi biaya transmisi. Jika ditotal, biaya untuk membangun kabel listrik bawah laut dari Jawa ke Bali mencapai sekitar Rp 8 triliun.
ADVERTISEMENT
"Ada penambahan sekitar Rp 3 triliun jika dengan alternatif bawah laut," kata General Manager PLN Distribusi Bali, Nyoman S Astawa, kepada kumparan (kumparan.com), Senin (19/3).
Ia menambahkan, kabel bawah laut masih rencana alternatif. Melihat tambahan biaya yang cukup besar, pihaknya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Kata Nyoman, hal ini masih akan didiskusikan, khususnya meminta persetujuan dari pihak PHDI Bali.
'Tol listrik' 500 kV ini bisa mengirim listrik hingga 2.000 MW dari Jawa Timur ke Bali. Dengan begitu, Bali bisa memiliki cadangan daya (reserve margin) yang sangat melimpah, lebih dari 100%, setara dengan Singapura, pasokan listriknya sangat aman.
Selain itu, biaya produksi listrik lebih efisien kalau menggunakan PLTU di Jawa Timur. Keandalan pembangkit dan jaringan dari Jawa Timur juga sudah bagus.
ADVERTISEMENT
Saat ini, Jawa Timur yang beban puncaknya 5.600 MW punya surplus 3.200 MW karena total daya mampu mencapai 8.800 MW. Surplus listrik yang melimpah ini bisa dikirim sebagian ke Bali.
Kebutuhan listrik Bali sendiri saat ini masih 840 MW saat beban puncak. Namun dengan pertumbuhan konsumsi listrik yang mencapai sekitar 10% per tahun, ke depan Bali akan membutuhkan pasokan dari Jawa Timur.
PLN ingin membangun transmisi 500 kV Jawa-Bali karena Bali sebagai destinasi wisata harus dijaga kebersihan udaranya, kurang bagus kalau membangun pembangkit batu bara di Bali. Lagipula lebih efisien mengirim surplus listrik dari Jawa Timur ketimbang membangun pembangkit baru di Bali.