PM Singapura Pastikan AI Bantu Pekerja, Bukan Gantikan Lapangan Kerja

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memastikan pemerintah berkomitmen memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendongkrak produktivitas dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih berkualitas, bukan untuk menggantikan tenaga kerja manusia.
Langkah afirmatif ini dihadirkan untuk merespons kekhawatiran para pekerja terhadap masa depan karier dan penghidupan mereka di tengah masifnya adopsi teknologi digital.
Wong menyatakan bahwa adopsi AI telah memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Singapura. Pemerintah saat ini juga tengah mengevaluasi ulang strategi sektor industri dan perdagangan guna memperkokoh daya saing nasional di tengah dinamika teknologi serta pergeseran lanskap ekonomi global.
“Terobosan baru menciptakan peluang yang beberapa tahun lalu bahkan tidak terbayangkan, sekaligus menghadirkan tantangan dan pertanyaan baru,” kata Wong dalam pesan Hari Nasional Singapura, dikutip dari Bloomberg, Minggu (9/8).
Menurut Wong, Singapura tidak boleh tinggal diam ketika negara-negara lain bergerak cepat mengadopsi teknologi mutakhir. Kendati demikian, pemerintah memastikan tidak akan serta-merta menerima setiap teknologi baru tanpa melalui kajian mendalam terhadap dampaknya bagi masyarakat.
Bantuan Biaya Hidup
Selain isu teknologi, Wong mengumumkan bahwa pemerintah akan segera menggulirkan sejumlah kebijakan baru untuk meringankan beban keluarga, khususnya dalam menanggung biaya perawatan anak (childcare) dan lansia.
“Di seluruh dunia, kehidupan keluarga menghadapi tekanan yang semakin besar. Kami juga mendengar kekhawatiran ini di Singapura. Banyak keluarga menghadapi tekanan ketika harus menyeimbangkan berbagai kebutuhan yang saling bersaing,” ujar Wong.
Di samping itu, pemerintah Singapura juga memperketat regulasi guna memperkuat perlindungan anak-anak agar mereka dapat menjelajahi ruang digital secara aman dan bertanggung jawab.
Tantangan Singapura
Di tengah optimisme teknologi, perekonomian Singapura tetap dibayangi risiko ketidakpastian global dan fragmentasi rantai pasok. Sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, perubahan permintaan global dapat memengaruhi stabilitas pertumbuhan domestik.
Meski demikian, ekonomi Singapura masih menunjukkan ketahanan yang kuat dengan peluang tumbuh di atas proyeksi awal tahun. Salah satu motor penggeraknya adalah lonjakan permintaan global terhadap komponen semikonduktor dan produk elektronik yang berkaitan dengan infrastruktur AI.
Berdasarkan estimasi awal Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026 tumbuh 5,7 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini sedikit melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencatatkan pertumbuhan 6,3 persen.
Hingga saat ini, pemerintah Singapura tetap mempertahankan kisaran proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 di level 2 hingga 4 persen.
