PMI Manufaktur RI Maret 2026 Turun Tajam Akibat Perang, Terendah Selama 8 Bulan
·waktu baca 3 menit

S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada posisi 50,1 pada Maret 2026, anjlok dari Februari pada 53,8.
Angka ini menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, sekaligus menunjukkan kondisi operasional yang relatif stagnan meski masih berada di zona ekspansi.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan data manufaktur Indonesia pada Maret menunjukkan penurunan output paling tajam dalam sembilan bulan. Selain itu ada juga penurunan permintaan yang dikaitkan dengan turunnya permintaan ekspor baru paling tajam sejak November lalu.
Usamah menuturkan berdasarkan laporan peserta survei, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir kuartal I 2026 adalah pecahnya perang di Timur Tengah.
“Perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun,” kata Usamah dalam keterangannya, Rabu (¼).
“Selain itu, melemahnya produksi dan kebutuhan kapasitas mendorong perusahaan memasuki fase pengetatan, dengan menurunkan aktivitas pembelian dan tingkat ketenagakerjaan,” imbuhnya.
Pada Maret, tingkat produksi juga tercatat menurun setelah empat bulan bertumbuh dan kenaikan besar pada Februari.
Sejalan dengan kondisi tersebut, perusahaan memilih menurunkan tingkat tenaga kerja dua kali dalam tiga bulan meski hanya sedikit. Produsen juga mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025.
"Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa output akan naik pada tahun ini. Meski demikian, data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan,” ujar Usamah.
PMI Maret menjadi yang terendah selama 8 bulan terakhir yaitu sejak Agustus 2025. Sebab pada Juli PMI manufaktur Indonesia pada 49,2, naik pada Agustus menjadi 51,1.
Kemudian September 50,4, Oktober 51,2, November 53,3 dan 51,2 pada bulan Desember. Memasuki 2026 sepanjang Kuartal I 2026, kinerja PMI manufaktur Indonesia konsisten berada pada fase ekspansi, yaitu 52,6 pada Januari 53,8 pada Februari, sebelum mengalami moderasi ke 50,1 pada Maret 2026.
“Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dalam keterangannya Rabu (1/4).
Agus kemudian membandingkan kinerja manufaktur Indonesia dengan sederet negara di kawasan ASEAN. Menurut dia, Indonesia tetap berada dalam kelompok negara dengan PMI ekspansif, bersama beberapa negara seperti Thailand di angka 54,1, Malaysia tercatat 50,7, Myanmar tercatat 51,5, dan Filipina tercatat 51,3.
Dia menyebut secara global, survei PMI juga menunjukkan tekanan inflasi meningkat dan rantai pasok terganggu akibat konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan biaya energi dan bahan baku.
“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” katanya.
