Kumparan Logo

Populer: Freeport Setor Rp 297 T; Harga Tanah dan Upah Buruh RI Mahal

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lokasi tambang Freeport di Papua Foto: Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi tambang Freeport di Papua Foto: Reuters

PT Freeport Indonesia telah mengeruk tambang emas dan tembaga di Papua sejak lima dekade lalu. Mulai dari Tambang Erstberg hingga Grasberg.

Di Grasberg, Freeport telah melakukan kegiatan pertambangan sejak 1991 atau sudah 29 tahun. Setorannya ke negara mencapai Rp 297 triliun.

Berita mengenai Freeport hingga hambatan investasi di Indonesia menjadi yang terpopuler di kumparanBisnis pada Selasa (4/8). Untuk lebih lengkapnya, berikut kumparan sajikan berita populer ekonomi bisnis:

Freeport Setor Rp 297 Triliun ke Pemerintah Sejak 1992

Dikutip kumparan dari data yang dipaparkan dalam Virtual Meeting Update pada Selasa (4/8), Freeport menyebut pemerintah Indonesia telah menerima 59 persen manfaat langsung dari operasi Freeport.

Pajak-pajak, royalti, dan dividen yang dibayar Freeport kepada pemerintah Indonesia sejak 1992 mencapai USD 20,5 miliar atau setara dengan Rp 297,25 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 14.500).

Freeport mengaku hanya menerima USD 13,5 miliar atau 40 persen dari hasil penambangan bijih tembaga, emas, dan perak di Grasberg sejak 1991.

Dari total setoran ke negara sebesar USD 20,5 miliar itu, USD 1,602 miliar berasal dari dividen, USD 2,467 miliar dari royalti, dan pajak serta pungutan lainnya USD 16,396 miliar. Pajak dan pungutan yang dimaksud meliputi PPh Badan, PPN, PBB, Iuran tetap, Pajak Karyawan, PDRB, Bea Masuk, Pajak dan Retribusi Daerah.

RI Kalah Saing Karena Harga Tanah dan Upah Buruh Mahal

Pemerintah menjelaskan masih lambatnya investasi yang masuk ke Indonesia. Salah satu faktornya adalah masih mahalnya beberapa komponen investasi.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, harga tanah di Indonesia merupakan yang termahal di antara negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meluncurkan Command Center atau Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi (KOPI) di kantor BKPM, Jakarta, Senin (23/3). Foto: Dok. BKPM

Berdasarkan data BKPM, harga tanah di Indonesia sebesar USD 225 per meter persegi atau sekitar Rp 3,28 juta per meter persegi (kurs Rp 14.580). Sementara Thailand hanya USD 215, Filipina USD 127, Malaysia USD 100, dan Vietnam USD 90 per meter persegi.

“Tanah saya mau jujur mengatakan bahwa kita mahal Rp 3-4 juta per meter, di beberapa negara lain kecil sekali,” kata Bahlil dalam webinar Indef: Relocating Investment to Indonesia, Selasa (4/8).

Selain harga tanah, rata-rata upah buruh per bulan di Indonesia juga paling tinggi di antara negara lainnya. Di Indonesia, rata-rata harga upah minimum buruh USD 279 per bulan atau sekitar Rp 4 juta.

Sejumlah buruh pabrik di Jalan Industri. Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

Sementara di Malaysia hanya USD 268 per bulan, Thailand dan Filipina USD 220 per bulan, dan Vietnam USD 182 per bulan.

Bahlil melanjutkan, untuk itu pemerintah membuat kawasan industri di Batang. Di wilayah Jawa Tengah itu, harga tanah dipastikan akan lebih murah dibandingkan negara lainnya.

“Makanya kami mendorong kemarin untuk membuat kawasan industri di Batang. Di sana kami buat konsep baru dengan BUMN, di mana seluruh perizinannya semua BKPM yang urus. Harga tanahnya pasti lebih murah dari Vietnam,” jelasnya.