Kumparan Logo

Populer: Goldman Sachs Pangkas Peringkat RI; IHSG Rontok-Respons Otoritas Pasar

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi IHSG anjlok 8 persen. Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi IHSG anjlok 8 persen. Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Goldman Sachs Pangkas Peringkat RI menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Kamis (29/1). Selain itu, IHSG Rontok & Respons Otoritas Pasar. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Goldman Sachs Turunkan Peringkat Saham RI Usai Peringatan MSCI

Bank investasi Goldman Sachs Group Inc. menurunkan peringkat investasi Indonesia menjadi underweight. Keputusan ini didasari kekhawatiran Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait aspek kelayakan investasi (investability), yang berpotensi memicu arus keluar dana pasif hingga USD 13 miliar. UBS AG juga turut menurunkan rekomendasi saham domestik menjadi netral. Analis Goldman Sachs memperkirakan tekanan jual pasif akan berlanjut dan membebani kinerja pasar.

Dalam skenario ekstrem, apabila Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melepas saham hingga USD 7,8 miliar.

Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Selain itu, arus keluar dana senilai USD 5,6 miliar juga dapat terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia. Goldman Sachs menilai, tekanan yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan potensi penurunan likuiditas, kemungkinan akan mendorong investor untuk menyeimbangkan kembali portofolionya.

Isu free float dan kepemilikan saham yang terkonsentrasi menjadi sorotan di pasar Indonesia, dengan banyak perusahaan besar dianggap memiliki likuiditas rendah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 10 persen pada Kamis (28/1) sebagai respons pasar. Meski demikian, analis Citigroup Inc. justru menilai pembekuan indeks oleh MSCI bisa bersifat sementara dan melihatnya sebagai 'peluang beli' pada saham-saham perbankan berkualitas, sektor telekomunikasi, serta emiten berbasis komoditas.

Respons Dirut BEI hingga Purbaya saat IHSG Rontok Imbas Kebijakan MSCI

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar bersama Direktur BEI Imam Rachman dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan keterangan pers di BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok tajam pada Rabu (28/1) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sejumlah aksi indeks saham Indonesia. IHSG anjlok 8,12 persen ke 8.250,58, menyebabkan perdagangan sempat dihentikan sementara (trading halt) selama 30 menit. Berdasarkan data RTI Business, tekanan jual terjadi secara luas dengan 703 saham melemah.

Menanggapi kondisi itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Corporate Secretary Kautsar Primadi menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI untuk merespons kekhawatiran MSCI terkait transparansi data kepemilikan saham. Kebijakan sementara MSCI ini berlaku hingga index review Februari 2026, membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta menghentikan penambahan konstituen baru.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan IHSG sebagai reaksi pasar yang berlebihan dan bersifat sementara, menegaskan bahwa persoalan transparansi akan diselesaikan sebelum tenggat waktu Mei. Purbaya juga menekankan fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid. Pandangan senada disampaikan oleh Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) dan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang melihat kondisi ini sebagai momentum perbaikan dan peluang 'buy on dip', didukung fondasi pasar modal dan fundamental ekonomi nasional yang kuat.