Populer: KOSPI Anjlok 11%, Bursa Korea Selatan Sempat Hentikan Perdagangan

Anjloknya Indeks Harga Saham Komposit Korea (KOSPI) di Korea Selatan menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (28/7). Selain itu, kebijakan penghentian perdagangan di bursa Korea Selatan. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Anjlok Hampir 11%, Harga Saham KOSPI Korsel Lebih Murah Dibanding IHSG
Indeks KOSPI Korea Selatan ambruk lebih dari 10% pada perdagangan Selasa (28/7), jauh lebih dalam dibanding pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia yang hanya terkoreksi sekitar 0,4% pada waktu yang sama. KOSPI tercatat bertengger pada level 6.023,66, turun 732,09 poin atau 10,84 persen, sementara IHSG berada di level 6.161,11.
Aksi jual masif ini dipicu oleh anjloknya saham-saham semikonduktor, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix, yang masing-masing merosot lebih dari 13%. Volatilitas ekstrem memaksa Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan (trading halt) di pasar KOSPI dan KOSDAQ selama 20 menit. Investor asing membukukan penjualan bersih sekitar 4,5 triliun won atau sekitar USD 3 miliar, sementara investor ritel justru melakukan pembelian.
Analis menilai tekanan pasar ini merupakan kombinasi sentimen negatif global terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), aksi deleveraging investor, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap persaingan industri semikonduktor dari China. KOSPI kini telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari puncaknya sebulan lalu, meskipun sebelumnya sempat menjadi indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia dengan kenaikan lebih dari 100% sepanjang tahun.
KOSPI Anjlok 11 Persen, Bursa Saham Korea Selatan Sempat Hentikan Perdagangan
Indeks Harga Saham Komposit Korea (KOSPI) merosot hampir 11 persen pada perdagangan Selasa (28/7), didorong oleh tekanan hebat pada saham-saham produsen chip seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. yang masing-masing terkoreksi lebih dari 13 persen. Akibat gejolak ini, Bursa Efek Korea sempat menghentikan perdagangan tunai di indeks Kospi dan Kosdaq selama 20 menit, setelah sebelumnya menangguhkan perdagangan program.
Koreksi ini menempatkan KOSPI sebagai contoh risiko di balik euforia AI, setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 100 persen dan menjadi indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia. Kini, KOSPI telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari posisi puncaknya sekitar satu bulan lalu. Likuiditas pasar juga menurun, dengan nilai transaksi tengah hari tercatat lebih dari 30 persen di bawah rata-rata 30 hari terakhir.
Tekanan jual diperkuat oleh kekhawatiran perusahaan AI global akan kesulitan mengubah belanja besar menjadi keuntungan, serta meningkatnya persaingan dari perusahaan teknologi China. Tercatat, penghentian perdagangan atau "circuit breaker" di KOSPI jarang terjadi, namun delapan dari 14 kali kejadian sejak tahun 2000 terjadi pada tahun ini, menunjukkan tingkat volatilitas pasar yang sangat tinggi. Investor asing melanjutkan aksi jual, sementara ritel justru menambah kepemilikan, menanti laporan kinerja penting seperti SK Hynix.
