Kumparan Logo

Populer: Negara Arab yang Kirim Minyak ke Israel; Kondisi Ekonomi Palestina

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

Kilang minyak Aramco di Arab Saudi. Foto: Reuters/Ahmed Jadallah/File Photo/File Photo
zoom-in-whitePerbesar
Kilang minyak Aramco di Arab Saudi. Foto: Reuters/Ahmed Jadallah/File Photo/File Photo

Negara-negara di Arab masih ada yang kirim minyak ke Israel. Mereka menolak sanksi embargo minyak ke Israel. Ini menjadi berita yang paling banyak dibaca pada Rabu (15/11).

Selain itu, ada informasi soal kondisi ekonomi Palestina di tengah konflik Palestina-Israel. Berikut rangkuman berita populer di kumparanBisnis.

Negara Arab yang Kirim Minyak ke Israel

Salah satu produsen minyak raksasa dunia sekaligus anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), Iran, mendesak negara-negara Islam menjatuhkan sanksi embargo minyak untuk Israel. Namun, usulan ini justru ditolak oleh negara-negara Arab.

Hal tersebut disampaikan Presiden Iran Ebrahim Raisi saat KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab Sabtu (11/11) lalu. Raisi mendesak negara-negara Islam meluncurkan sanksi embargo minyak dan barang terhadap Israel.

“Tidak ada cara lain selain melawan Israel, kami mencium tangan Hamas atas perlawanannya terhadap Israel,” kata Raisi dalam pidatonya, dikutip dari Reuters, Rabu (15/11).

Adapun dua delegasi beberapa negara Arab, dipimpin oleh Aljazair, menyerukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel, kata dua delegasi kepada Reuters.

Negara-negara Arab lainnya yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pun menolak kebijakan tersebut dan menekankan perlunya menjaga saluran tetap terbuka dengan pemerintahan Netanyahu, kata mereka.

instagram embed

Mengutip Times of Israel, Liga Arab dan OKI pada awalnya dimaksudkan melakukan pertemuan secara terpisah. Para diplomat Arab mengatakan, keputusan untuk menggabungkan pertemuan tersebut lantaran delegasi Liga Arab gagal mencapai kesepakatan mengenai pernyataan akhir.

Diplomat tersebut berkata, beberapa negara, termasuk Aljazair dan Lebanon, mengusulkan untuk mengancam akan mengganggu pasokan minyak ke Israel dan sekutunya serta memutuskan hubungan ekonomi dan diplomatik yang dimiliki beberapa negara Liga Arab dengan Israel.

"Namun, setidaknya tiga negara, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020, menolak proposal tersebut," kata diplomat yang tidak mau disebutkan namanya.

Kondisi Ekonomi Palestina

Orang-orang duduk di dekat puing-puing rumah mereka yang hancur, di Jalur Gaza, Minggu (23/5). Foto: Ahmed Jadallah/REUTERS

Program Pembangunan PBB dan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA), melaporkan selama sebulan terakhir gempuran yang dilakukan Israel ke Palestina, kemiskinan Palestina meningkat 20 persen dan Produk Domestik Bruto (PDB) menurun sebesar 4,2 persen.

"Tingkat dampak ekonominya melebihi konflik Suriah dan Ukraina, atau perang Israel-Palestina sebelumnya," tulis laporan tersebut dikutip dari Aljazeera, Rabu (15/11).

Serangan Israel juga membuat 2,3 juta penduduk Gaza meninggalkan rumah mereka. Bahkan, setidaknya 182 warga Palestina tewas dan lebih dari 2.250 orang terluka ketika kekerasan menyebar di Tepi Barat, daerah di Palestina yang dikuasai Partai Fatah.

PBB memproyeksikan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Palestina yang sebelumnya USD 20,4 miliar per tahun atau setara Rp 316,48 triliun (kurs Rp 15.514 per dolar AS), akan turun USD 1,7 miliar atau 8,4 persen apabila perang terus berlanjut ke bulan berikutnya.

Perekonomian Palestina kemungkinan akan menyusut sebesar 12 persen dengan kerugian sebesar USD 2,5 miliar di akhir tahun ini. Nilainya setara Rp 38,78 triliun.

"Hilangnya PDB sebesar 12 persen pada akhir tahun ini jadi masalah besar buat Palestina dan belum pernah terjadi sebelumnya," kata Asisten Sekretaris Jenderal Program Pembangunan PBB Abdallah al-Dardari.

Ambruknya ekonomi Palestina karena yang diserang Israel lebih parah dibandingkan negara lain yang juga mengalami perang. Sebagai perbandingan, ekonomi Suriah biasanya kehilangan 1 persen PDB-nya per bulan saat ada konflik di negaranya.

Contoh lain, Ukraina yang saat ini perang dengan Rusia, PDB-nya anjlok 30 persen dalam setengah tahun atau rata-rata sekitar 1,6 persen sebulan.