Populer: OJK Denda 3 Emiten Rp 2,1 T; Stok Pertalite Menurun

Sanksi denda OJK terhadap tiga emiten terkait kasus manipulasi saham menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (16/10). Selain itu, terdapat sorotan terkait pengakuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengenai penurunan stok BBM Pertalite nasional.
Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
OJK Denda Rp 1,5 T ke DSSA, BREN Rp 500 M & CUAN Rp 100 M Kasus Manipulasi Saham
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda senilai total Rp 2,1 triliun kepada tiga emiten, yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 1,5 triliun (83,3 juta USD), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp 500 miliar (27,8 juta USD), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp 100 miliar (5,6 juta USD). Langkah tegas ini diambil akibat pelanggaran berat berupa manipulasi pasar dan pengondisian penawaran umum saham.
Dalam pemeriksaan perdagangan saham DSSA periode 2023-2026, OJK menemukan indikasi manipulasi pasar terstruktur oleh nasabah perorangan dan institusi melalui sejumlah anggota bursa. Regulator telah memanggil 12 direksi perusahaan efek, 15 pihak perorangan, serta 11 badan hukum asing, hingga membekukan izin perseorangan direksi terkait yang terbukti melanggar Pasal 91 dan Pasal 92 UU Pasar Modal/UU P2SK.
Sementara pada kasus BREN dan CUAN, OJK menemukan fakta bahwa penawaran umum telah diskenariokan sejak awal untuk menguntungkan pihak terafiliasi pemegang saham pengendali. Skema pengaburan identitas pemesan ini melanggar Pasal 107 UU P2SK karena menyebabkan porsi saham publik terkonsentrasi pada kelompok tertentu, membatasi likuiditas saham di pasar bebas, serta menciptakan keuntungan yang tidak sah.
Bahlil Akui Stok Pertalite Menurun, Butuh Seminggu Agar Bisa di Atas 20 Hari
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa cadangan BBM jenis Pertalite (RON 90) secara nasional mengalami penurunan hingga berada di kisaran 16-18 hari. Pemerintah memperkirakan butuh waktu sekitar satu pekan ke depan untuk memulihkan cadangan kilang hingga kembali di atas level aman 20 hari.
Kelangkaan Pertalite di beberapa daerah seperti Bali dan Sulawesi Utara dipicu oleh kendala armada kapal distribusi serta lonjakan konsumsi secara masif. Penurunan stok ini disebabkan oleh fenomena pergeseran konsumen dari BBM nonsubsidi seperti Pertamax (RON 92) dan RON 95 ke BBM subsidi akibat selisih harga yang ekonomis.
Kendati stok Pertalite tertekan, pemerintah memastikan pasokan jenis BBM lain seperti Solar, Pertamax (RON 92), dan Pertamax Turbo (RON 98) tetap berada pada ketahanan normal tanpa hambatan. Pertamina telah memproses penambahan kapal distribusi dan menggenjot produksi pencampuran di kilang guna menstabilkan kembali pasokan nasional dalam kurun 7 hari.
