Populer: PNS di IKN Harus Rela Berbagi Kamar; Alasan Bos Garuda Ingin Resign
·waktu baca 3 menit

Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara) harus siap berbagi kamar hunian dengan enam orang karena anggaran pembangunan masih kurang. Kabar itu menjadi artikel yang banyak dibaca di kumparanBisnis sepanjang Minggu (28/8).
Selain itu, ada juga alasan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra ingin mengundurkan dari jabatannya selama 138 kali. Berikut rangkuman berita populer di kumparanBisnis:
PNS di IKN Harus Rela Berbagi Kamar
Pemerintah menyediakan hunian khusus untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pindah ke Ibu Kota Negara (IKN). Sayangnya, anggaran pembangunan masih kurang dan membuat PNS harus berbagi kamar.
Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, mengungkapkan opsi terburuk kebutuhan hunian di IKN yaitu 1 hunian diisi oleh 6 orang. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2022 tentang Perincian Rencana Induk Ibu Kota Nusantara, kebutuhan rumah di IKN sebanyak 16 ribu unit.
Iwan menilai kebutuhan itu sekaligus bisa menjadi peluang investasi di sektor perumahan. Ia mengatakan setidaknya ada 8 ribu unit yang bisa diinvestasikan.
"8 ribu itu sistemnya sharing dulu, 3 orang dalam 1 unit. Satu unit ada 3 kamar. Kalau masing-masing 1 (orang satu unit) sekitar 2.500-an (penghuni). Kalau kali 6 berarti itu bisa 16 ribu. Opsi terjeleknya itu, 1 unit isi 6 orang," ujar Iwan saat konferensi pers Hari Perumahan Nasional di Kantor PUPR Jakarta, Jumat (25/8).
Alasan Bos Garuda Ingin Resign
Irfan Setiaputra mengakui sempat ingin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direktur utama hingga 138 kali, imbas masalah keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang hampir mustahil diselesaikan.
Irfan menghadapi tekanan restrukturisasi perseroan melalui persidangan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) seraya diterpa badai pandemi COVID-19.
Dia mengungkapkan bersama Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo tidak percaya bahwa maskapai pelat merah ini akan selamat. Namun, Irfan tidak punya pilihan lain.
“Banyak orang yang bertanya sama saya ‘bagaimana bapak menghadapi situasi itu’. Jawaban saya, saya ingin mengundurkan diri. (Terus) tanya ‘berapa kali bapak ingin mengundurkan diri, 2-3 kali? Enggak 138 kali lebih pastinya’. Ini sebuah beban yang enggak pernah orang yang tahu,” kata Irfan dengan suara bergetar di OJK Institute dalam YouTube Otoritas Jasa Keuangan, dikutip Sabtu (26/8).
Irfan menuturkan, tidak ada orang yang tahu beban yang dipikulnya saat memimpin maskapai BUMN itu. Bahkan, tiga CEO terkemuka yang ditemui Irfan meminta ia untuk mengundurkan diri karena Garuda Indonesia tidak akan selamat.
“Saya tanya ‘bos menurut lu gua harus gimana, kalau kondisinya seperti ini dari mobilitas, peradaban kita enggak terbang, utang kita seberapa besar’. Mereka semua bertiga sepakat dan kasih jawaban very simple straightforward ‘gampang Fan’. Saya ambil notes, apa bos? ‘Elu resign aja, udah gila diterusin perusahaan begini, enggak mungkin selamat’,” ujarnya.
Selain itu, Irfan juga sampai meminta solusi kepada profesor Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) di salah satu universitas terkait permasalahan Garuda Indonesia, namun tak kunjung mendapat jawaban.
“Belum ketemu pak Sunarso (Direktur Utama BRI) teman-teman gimana rasa malunya, kita bisa berdiri segala macam tapi enggak bayar. Bukan hanya bunga yang bayar, semua enggak kita bayar berbulan-bulan. Saya juga heran enggak Kol 5,” candanya.
Kemelut utang perseroan membuat armada yang diterbangkan menyusut, dari awalnya 140 unit, menjadi 35 unit menjelang sidang PKPU. Kata Irfan, para lessor tidak membolehkan sisanya untuk terbang.
“Yang lainnya tidak membolehkan kita terbang lagi, ya pantas saja pemilik pesawat karena kita tidak bayar hampir dua tahun tentu saja tidak ikhlas menerbangkan pesawatnya dia,” sambung Irfan.
