Populer: Rolex Makin Sulit Didapat; Lowongan Kerja AS Lesu

Fenomena Rolex yang makin sulit didapat menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Minggu (4/10).
Selain itu, lesunya lowongan kerja AS turut menipiskan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Rolex Makin Sulit Didapat, Produksi 1,15 Juta Unit Tak Cukup Redam Permintaan
Meskipun Rolex memproduksi sekitar 1,15 juta jam tangan per tahun, tingginya permintaan pasar global membuat sejumlah model populer tetap sulit didapatkan di tingkat ritel resmi. Kondisi ini memaksa konsumen berhadapan dengan sistem daftar tunggu yang bisa mencapai bertahun-tahun atau beralih ke pasar sekunder dengan membayar premi yang tinggi. Sebagai contoh, model Rolex Submariner "Starbucks" di pasar sekunder dibanderol sekitar 15 persen lebih mahal dibandingkan harga resmi di dealer demi menghindari ketidakpastian waktu tunggu.
Dari sisi kinerja bisnis, Rolex terus mengukuhkan posisinya sebagai produsen jam tangan mewah terbesar di dunia. Estimasi dari Morgan Stanley dan LuxeConsult menunjukkan pendapatan tahunan Rolex mencapai 11 miliar franc Swiss atau sekitar USD 13,4 miliar (setara Rp 239,8 triliun). Konsistensi desain, kekuatan sejarah sejak didirikan pada 1905, serta strategi pemasaran yang mengaitkan produk dengan prestise dan pencapaian pribadi menjadi pilar utama bertahannya loyalitas konsumen lintas generasi.
Kesenjangan pasokan ini semakin melebar sejak periode pandemi COVID-19 akibat pergeseran belanja konsumen ke barang mewah berukuran kecil serta fenomena revenge spending. Berdasarkan data ekspor, nilai ekspor jam tangan Swiss melonjak signifikan dari 21,7 miliar franc Swiss pada 2019 menjadi rekor tertinggi sebesar 26,7 miliar franc Swiss pada 2023. Peningkatan permintaan yang tidak diimbangi oleh penambahan kapasitas produksi secara instan dari produsen Swiss akhirnya mengubah dinamika penjualan di butik resmi, di mana staf kini bekerja berdasarkan alokasi unit alih-alih mengejar target penjualan biasa.
Lowongan Kerja AS Lesu
Pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) di Amerika Serikat (AS) melambat tajam pada September 2026 dengan hanya mencatatkan tambahan 29.000 pekerjaan. Realisasi ini berada jauh di bawah proyeksi awal para ekonom yang memperkirakan penyerapan hingga 90.000 lapangan kerja baru. Perlambatan ini diperparah dengan revisi turun tajam data dua bulan sebelumnya, di mana data Agustus dipangkas menjadi 133.000 pekerjaan dari proyeksi awal 162.000, sementara data Juli menunjukkan kontraksi dengan hilangnya 10.000 pekerjaan.
Situasi ketenagakerjaan yang melemah ini berimbas pada naiknya tingkat pengangguran AS menjadi 4,2 persen pada September, naik dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya. Meskipun demikian, para ekonom menilai kondisi pasar tenaga kerja AS masih tergolong stabil dalam fase "low-hire, low-fire", karena pengajuan tunjangan pengangguran mingguan masih berada di level terendah dalam 57 tahun terakhir. Untuk menjaga keseimbangan populasi usia kerja yang menyusut akibat pembatasan imigrasi, perekonomian AS saat ini diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 50.000 pekerjaan baru setiap bulan.
Melemahnya indikator ketenagakerjaan ini memangkas ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter agresif Federal Reserve (The Fed). Peluang kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan Fed yang dijadwalkan tanggal 27-28 Oktober menyusut hingga sempat menyentuh angka 13 persen sebelum berfluktuasi ke kisaran 23 persen. Penurunan ekspektasi ini terjadi setelah inflasi Juli dan Agustus terpantau lebih rendah dari perkiraan, meskipun pelaku pasar tetap melihat adanya probabilitas kenaikan bunga pada Desember jika inflasi belum sepenuhnya turun ke target 2 persen.
