Populer: Rupiah Bertanda Tangan Purbaya & Perry Sah; Dirjen Bea Cukai ke Istana

Kepastian keabsahan uang rupiah bertanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu berita populer di kumparanBisnis sepanjang Selasa (22/9).
Selain itu, Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama yang merapat ke Istana Kepresidenan untuk menghadiri rapat terbatas mengenai industri tekstil juga tak kalah menyita perhatian publik.
Berikut rangkuman berita populer tersebut:
BI Pastikan Rupiah Bertanda Tangan Purbaya dan Perry Warjiyo Tetap Sah
Bank Indonesia (BI) memastikan uang Rupiah Tahun Cetak 2026 yang ditandatangani oleh Purbaya dan mantan Gubernur BI Perry Warjiyo tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Hal itu sesuai regulasi formal, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Berdasarkan aturan tersebut, keabsahan uang rupiah kertas minimal membutuhkan tanda tangan representasi pemerintah dan BI yang menjabat saat proses penetapan dan produksi dilakukan.
Secara prosedural, pergantian pejabat di level Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia tidak akan membatalkan status hukum uang yang telah diproduksi sebelumnya. Untuk proses cetak dan produksi periode berikutnya, BI memastikan tanda tangan akan menyesuaikan dengan pejabat aktif yang berwenang demi menjaga tertib administrasi dan kepatuhan regulasi tata kelola mata uang nasional.
Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Merapat ke Istana Sore Ini
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, mendatangi Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (22/9) sekitar pukul 15.41 WIB. Djaka belum bersedia membeberkan agenda spesifik pembicaraannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Momentum kedatangan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi koordinasi kebijakan fiskal dan perlindungan industri domestik. Di saat yang bersamaan, Presiden Prabowo tengah memimpin rapat terbatas yang dihadiri oleh sejumlah menteri kunci ekonomi, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi Rosan Roeslani, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, dan Kepala BRIN Arif Satria.
Fokus utama rapat kabinet terbatas ini adalah membahas kelangsungan industri tekstil nasional yang saat ini tengah menghadapi tekanan hebat. Kehadiran Dirjen Bea Cukai diduga kuat berkaitan erat dengan koordinasi kebijakan tarif impor, pengawasan arus barang masuk, dan langkah proteksi pasar domestik guna menyelamatkan sektor padat karya tersebut dari ancaman deindustrialisasi.
