Populer: Rupiah Melemah 7,74%; Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

Pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 7,74 persen sejak awal tahun 2026 menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Rabu (30/9).
Selain itu, ada pula sorotan terhadap penyesuaian harga BBM nonsubsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia yang menembus USD 100 per barel. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
BI Ungkap Rupiah Melemah 7,74 Persen Sejak Awal Tahun 2026
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 7,74 persen secara year to date (YtD) hingga 29 September 2026. Tekanan pada mata uang domestik ini dipicu oleh akumulasi sentimen global dan lonjakan permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri. Secara historis, kebutuhan valas korporasi domestik untuk aktivitas impor dan repatriasi memang mencapai titik puncaknya pada akhir kuartal III.
Pergerakan nilai tukar ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental penawaran dan permintaan riil, melainkan juga oleh faktor persepsi harga di pasar. Sentimen luar negeri, seperti potensi kenaikan inflasi akibat gangguan pasokan energi global, memicu ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Akibatnya, investor asing cenderung melakukan reposisi portofolio dan menarik modal keluar dari aset rupiah, yang kemudian mentransmisikan tekanan dari pasar offshore ke pasar domestik.
Guna menjaga stabilitas nilai tukar, BI berkomitmen untuk terus mengoptimalkan bauran intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain melakukan intervensi langsung, bank sentral juga mengimbau pelaku usaha untuk memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging) agar kebutuhan valas tidak sepenuhnya bertumpu pada transaksi spot yang agresif.
BBM Nonsubsidi 1 Oktober 2026 Naik atau Turun?
Harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menembus level USD 100 per barel menjelang momentum evaluasi harga BBM berkala pada 1 Oktober 2026. Kementerian ESDM menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi akan tetap diformulasikan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dan dinamika pasar global. Meski demikian, pemerintah belum memberikan kepastian arah pergerakan harga BBM nonsubsidi untuk periode kuartal IV ini.
Berbanding terbalik dengan kelompok nonsubsidi, pemerintah memberikan kepastian bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite, solar, dan minyak tanah tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan serupa juga berlaku untuk harga LPG subsidi yang dipastikan stabil guna menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah dari dampak rambatan inflasi energi global.
Di sektor industri, pemerintah masih melakukan pembahasan mendalam terkait kelanjutan program insentif harga gas bumi tertentu yang dijadwalkan berlaku hingga Desember 2026. Evaluasi kebijakan subsidi dan insentif energi ini dilakukan dengan terus mencermati eskalasi konflik geopolitik global yang saat ini menjadi faktor utama penekan rantai pasok energi dunia.
