Populer: Trump Stop Sementara Operasi di Selat Hormuz; Bahlil Bicara CNG
ยทwaktu baca 2 menit

Keputusan Presiden AS Donald Trump menyetop sementara operasi di Selat Hormuz menjadi salah satu berita populer di kumparanBISNIS sepanjang Rabu (6/5). Selain itu, rencana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait konversi LPG ke CNG juga tak kalah menyita perhatian publik.
Berikut rangkuman berita populer tersebut:
Trump Stop Sementara Operasi Hormuz, Buka Jalan Damai dengan Iran
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran, menyusul kemajuan signifikan dalam negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan dan sejumlah negara lain. Meskipun operasi Project Freedom dijeda, blokade AS terhadap kapal menuju dan dari pelabuhan Iran tetap diberlakukan penuh, yang menunjukkan tekanan ekonomi terhadap Teheran berlanjut.
Di pasar energi, pengumuman ini memicu penurunan harga minyak. Brent crude bergerak mendekati USD 108 per barel, setelah anjlok 4 persen sehari sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 100 per barel. Pemerintah AS terlihat berupaya meredakan konflik yang telah mendorong lonjakan harga energi dan menekan ekonomi domestik, terutama menjelang pemilu sela November.
Bahlil Bakal Konversi LPG dengan CNG, Negara Bisa Hemat Rp 130 T
Pemerintah berencana menyubsidi penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk rumah tangga sebagai alternatif pengganti LPG subsidi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan konversi ini berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp 130 triliun sampai Rp 137 triliun. Harga CNG diperkirakan 30 persen lebih murah karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 3.000 miliar meter kubik (mmcfd).
Saat ini, beberapa sektor seperti hotel, restoran, dan industri makanan/minuman sudah menggunakan CNG. Namun, implementasi untuk rumah tangga, khususnya dalam bentuk tabung kecil 3 kg, masih dalam tahap uji coba karena tekanan gas yang tinggi, sekitar 200-250 bar.
Bahlil memperkirakan kajian ini akan rampung dalam 2-3 bulan ke depan, setelah itu pemerintah akan memulai program konversi besar-besaran.
Pengembangan CNG dinilai krusial mengingat tingginya kebergantungan Indonesia pada impor LPG, yang mencapai 75-80 persen dari total kebutuhan nasional. Konsumsi LPG rumah tangga mencapai sekitar 7-8 juta ton per tahun, ditambah kebutuhan industri petrokimia sebesar 2-3 juta ton. Dengan skema pembiayaan business to business (B2B), pemerintah akan fokus pada penyediaan gas, sementara ekosistem bisnis akan dikembangkan oleh pelaku usaha.
