Potensi Ekonomi Digital USD 130 M, Investasi Infrastruktur Jadi Kunci Telkom

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menembus lebih dari USD 130 miliar pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari USD 360 miliar pada 2030.
President Director Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan, besarnya potensi tersebut perlu ditopang infrastruktur digital yang mumpuni, mulai dari konektivitas hingga platform berstandar internasional.
“Potensi tersebut hanya akan remain sebagai potensi kalau kita tidak bisa menerjemahkan potensi tersebut ke dalam infrastruktur digital yang mumpuni,” kata Dian dalam konferensi pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Bali, Selasa (25/8).
Menurut dia, peningkatan adopsi digital masyarakat Indonesia turut mendorong kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, swasta, hingga UMKM. Kondisi tersebut menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ke depan.
Jaga Capex 18-20%
Di tengah peluang tersebut, kebutuhan investasi infrastruktur digital juga semakin besar. Telkom menjaga standar belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar 18–20% dari total pendapatan per tahun, sebagai bagian dari upaya menjaga dan mengembangkan infrastruktur pendukung bisnis digital.
Besarnya kebutuhan investasi tersebut semakin terlihat dari pertumbuhan kebutuhan konektivitas yang didorong pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI).
Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria D. Purba mengatakan, kebutuhan konektivitas untuk mendukung AI, khususnya compute-to-compute connectivity, dapat meningkat hingga 10–20 kali lipat.
“Compute-to-compute connectivity-nya itu lebih dari 10 kali, antara 10 sampai 20 kali,” ujar Budi dalam kesempatan yang sama.
Menurut Budi, kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur konektivitas harus mampu mengejar pertumbuhan permintaan. Dia mencontohkan pembangunan kabel laut internasional yang membutuhkan waktu sekitar lima tahun, sementara kapasitas kabel Bifrost yang baru diselesaikan PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) telah habis dalam waktu kurang dari satu tahun.
“Makanya tadi saya ceritakan, kita bangun kabel butuh waktu 5 tahun tapi belum 1 tahun sudah habis,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya membutuhkan peningkatan konsumsi layanan digital, tetapi juga investasi berkelanjutan pada infrastruktur yang menjadi fondasinya.
CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menambahkan kebutuhan konektivitas ke depan juga semakin kompleks seiring perubahan yang dibawa AI, cloud, dan digital platform. Ketiganya, menurut dia, pada akhirnya akan bermuara pada kebutuhan terhadap konektivitas.
“AI itu akan mengubah cara orang bekerja. Cloud akan mengubah bagaimana bisnis atau perusahaan mengembangkan bisnisnya. Digital platform akan mengubah bagaimana cara customer kita berperilaku. Ketiga perubahan ini ... akan mengerucut ke kebutuhan satu hal, just connectivity,” kata Abdul Rahman di kesempatan yang sama.
Investasi Berkelanjutan
Karena itu, Telin akan terus melakukan investasi berkelanjutan, khususnya pada infrastruktur submarine cable. Investasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai penghubung antara Asia dan kawasan lain di dunia.
Budi Satria menilai posisi geografis Indonesia dapat menjadi peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai regional hub konektivitas global. Infrastruktur yang lebih resilien juga dinilai dapat menjadi daya tarik tambahan bagi masuknya investasi digital ke Indonesia.
“Kalau itu yang terjadi, maka akan banyak sekali investasi juga yang datang ke Indonesia karena konektivitasnya sudah ada dari Indonesia ke seluruh dunia,” pungkas Budi.
