Kumparan Logo

Potensi Lahan Perikanan Budi Daya 12,1 Juta Ha, Terpakai 2,6 Persen

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto saat acara Sustainable Aquaculture Seminar 2019 di Hotel Raffles, Jakarta, Senin (21/10/2019). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto saat acara Sustainable Aquaculture Seminar 2019 di Hotel Raffles, Jakarta, Senin (21/10/2019). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengungkapkan, Indonesia memiliki segala potensi sektor kelautan dan perikanan yang dapat menjadi tumpuan pembangunan ekonomi nasional. Hal itu terbukti dari capaian salah satu indikator pembangunan, yaitu tingkat pertumbuhan PDB perikanan budi daya tahun 2018 mencapai 57,14 persen dari total GDP nasional perikanan.

Namun, Slamet mengakui masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan, seperti pengembangan akuakultur laut. Dari potensi lahan perikanan budi daya sebesar 12,1 juta hektare, baru sekitar 2,6 persen saja yang sudah dimanfaatkan.

“Indonesia sendiri masih memiliki peluang besar dalam mengembangkan akuakultur laut, ini dapat dilihat dari potensi lahan perikanan budi daya yang ada seluas 12,1 juta hektare dengan pemanfaatan hanya 325.825 hektare,” kata Slamet di Jakarta, Senin (21/10).

Pasar Ikan bandeng. Foto: Novan Nurul Alam/kumparan

Dari kesempatan yang begitu luas tersebut, Slamet mengajak masyarakat ikut terlibat dalam pemanfaatan budi daya kelautan. Sehingga segala kebutuhan masyarakat khususnya pangan dari sektor laut bisa terpenuhi.

“Sektor perikanan dan akuakultur sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi manusia dan memiliki peran yang semakin penting dalam memerangi kelaparan, sebagaimana diartikulasikan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030,” ujar Slamet.

Lebih lanjut, Slamet mengungkapkan dalam mengembangkan akuakultur di Indonesia juga harus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Sebab, kata Slamet, teknologi di dunia terus berkembang. Ia berharap pengelolaan tersebut bisa berkelanjutan.

“Salah satu cara yang muncul untuk meningkatkan industri dan pengembangan akuakultur adalah melalui digitalisasi. Digitalisasi sektor ini telah menjadi kebutuhan akhir-akhir ini, mengingat teknologi dan inovasi tidak pernah berhenti untuk berkembang, begitu pula akuakultur,” tutur Slamet.