Bisnis
·
5 Juli 2021 10:24
·
waktu baca 3 menit

PPKM Darurat, E-commerce Bisa Jadi Penopang Konsumsi Rumah Tangga?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
PPKM Darurat, E-commerce Bisa Jadi Penopang Konsumsi Rumah Tangga? (975405)
searchPerbesar
Ilustrasi belanja online. Foto: Shutterstock
Adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat dinilai akan menurunkan konsumsi masyarakat. Pembatasan pusat perbelanjaan hingga wisata pun dinilai akan menurunkan daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Thomas Dewaranu, menilai konsumsi rumah tangga bisa ditopang dengan belanja online atau via e-commerce. Apalagi, di masa saat ini sejumlah e-commerce memberikan berbagai promo untuk menggaet konsumen.
"Pembatasan mobilitas masyarakat dan pembatasan jam operasi sentra-sentra ekonomi membuat platform digital menjadi opsi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan," ujar Thomas kepada kumparan, Senin (5/7).
Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, potensi nilai ekonomi digital tahun ini diperkirakan mencapai USD 35 miliar atau sekitar Rp 504 triliun (kurs Rp 14.400 per USD) dan mencapai USD 101 miliar atau Rp 1.454 triliun.
Meski demikian, Thomas memahami bahwa transaksi digital melalui e-commerce tak bisa seluruhnya menggantikan kegiatan konsumsi secara nasional. Ketimpangan akses informasi dan komunikasi di Indonesia masih menjadi kendala untuk mendorong ekonomi digital.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, kata dia, konsumsi pemerintah juga perlu digencarkan selama PPKM Darurat ini. Belanja bansos, PKH, hingga BLT selama tiga bulan ke depan bisa dilakukan percepatan pembayarannya di Juli ini. Tujuannya agar masyarakat kelas bawah memiliki likuiditas yang cukup selama PPKM Darurat.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai PPKM Darurat akan memukul konsumsi rumah tangga. Namun ia memprediksi penurunannya tak akan separah tahun lalu.
"Kalau tahun lalu itu harga komoditas juga jatuh, perdagangan internasional lemah, semua lockdown. Tahun ini global mulai pulih ekonominya seperti AS dan Eropa, harga komoditas juga naik," jelasnya.
Ia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III ini masih tetap positif. Angkanya akan sedikit di bawah 4,5 persen.
ADVERTISEMENT
Sementara dari sisi e-commerce, Executive Vice President of Consumer Goods Blibli, Fransisca Krisantia Nugraha mengatakan, pihaknya mendukung PPKM Darurat yang diberlakukan pemerintah hingga 20 Juli mendatang.
"Di tengah keadaan menantang, Blibli berkomitmen untuk terus menghadirkan produk yang relevan, stok yang memadai, serta pengiriman cepat agar para pelanggan terus bisa menjalankan keseharian dengan baik dari rumah," kata Fransisca.
PPKM Darurat, E-commerce Bisa Jadi Penopang Konsumsi Rumah Tangga? (975406)
searchPerbesar
Ilustrasi belanja online Foto: shutterstock
Dia mengkau melakukan berbagai cara untuk menggaet konsumen selama masa PPKM Darurat ini. Mulai dari meluncurkan kurasi khusus yang berada di bawah BlibliMart untuk groceries, BliFresh untuk makanan segar, dan BlibliMed untuk produk kesehatan.
Menurut Fransisca, Blibli menjamin semua layanan kepada pelanggan berjalan lancar. Untuk logistik, pelanggan tetap bisa memilih dari berbagai opsi yang ada selama ini, termasuk pengiriman cepat 2 Hour Delivery, Scheduled Delivery, dan Subscription.
ADVERTISEMENT
"Kami juga menyediakan vitamin dan makanan sehat bagi tim Blibli agar mereka bisa melindungi kondisi tubuh dari dalam. Blibli sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan demi kesehatan semua, baik tim Blibli, mitra bisnis, dan pastinya pelanggan," jelas dia.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menilai lamanya PPKM Darurat itu akan mempengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi domestik. Untuk itu, dari sisi pemerintah, pihaknya mempercepat penyaluran bansos kepada masyarakat.
"Kalau panjang bisa satu bulan, bisa signifikan terutama dalam level konsumsi. Karena kalau konsumsi turun, PPKM mempengaruhi outlook dari growth kuartal III-2021, jadi benar-benar tergantung perkembangan dari PPKM Darurat," ujarnya saat konferensi pers virtual, Jumat (2/7).