Prabowo Akan Bertemu Putin, Akan Bahas Pembelian Minyak Rusia?
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan berangkat ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin dalam waktu dekat. Keberangkatan ke Rusia ini dikonfirmasi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Oh, nanti saya [ikut mendampingi] pemerintah Republik Indonesia, ya," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/4).
Kunjungan Prabowo ke Rusia tampaknya untuk membahas kerja sama di sektor energi. Kerja sama di sektor energi yang sedang berjalan adalah antara Rosneft dengan Pertamina.
"Oh itu, kan, kerja sama perusahaan Rusia. Rosneft itu, kan, di Tuban. Rosneft dengan Pertamina membangun satu kilang di sana. Nah, mungkin itu salah satu yang akan bisa kita follow up. Tapi itu, kan, B2B, ya," ujar Bahlil.
Sementara soal kemungkinan membeli minyak dari Rusia, Bahlill belum menjawab secara tegas. Bahlil dalam kesempatan terpisah pernah menyebut opsi mengimpor minyak mentah dari Rusia masih terbuka untuk menggantikan sekitar 20 persen pasokan yang melewati Selat Hormuz.
Namun, Bahlil memastikan pembelian minyak dari AS sudah berjalan.
"[Pembelian minyak] Amerika sudah mulai berjalan. Sudah mulai," ungkapnya.
"BBM tidak. BBM kita tidak ambil dari sana. Minyak mentah, crude-nya," pungkasnya.
Sebelumnya, juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan Putin kemungkinan akan menggelar dialog dengan Prabowo.
"Saya mengkonfirmasi bahwa persiapan sedang dilakukan. Kami sedang mempersiapkan untuk pembicaraan. Kami akan mengumumkan dalam waktu dekat," kata Dmitry dikutip dari kantor berita Rusia, TASS.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk RI Sergei Tolchenov mengatakan belum mendapat permintaan resmi baik dari Pertamina maupun Kementerian ESDM terkait pembelian minyak dari Rusia. Menurutnya, pemerintah Rusia dapat menjual minyak ke Indonesia dan siap bekerja sama dengan negara mitra di sektor minyak dan gas (migas).
"Jika mereka membutuhkan sesuatu, silakan hubungi kami, beri tahu apa yang Anda butuhkan, dan kami akan mendiskusikan apa yang dapat dilakukan. Bahkan bagi mereka yang kami sebut sebagai negara yang tidak bersahabat, sebagai contoh dari Eropa Barat, jika mereka tertarik, jika mereka siap untuk bekerja sama berdasarkan kontrak jangka panjang dengan kami, bahkan kami siap memasok untuk mereka, untuk menjual minyak dan gas," ujarnya.
