Prabowo: Dengan MBG Ekonomi Kita Hidup di Mana-Mana
·waktu baca 2 menit

Presiden Prabowo Subianto menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Ia menyebut dengan MBG, ekonomi di Tanah Air bisa hidup.
“Saudara-saudara sekalian, anak-anak kita banyak yang mengalami kurang gizi, badannya kecil, selnya tidak berkembang. Dengan MBG ekonomi kita hidup di mana-mana,” kata Prabowo di depan para buruh dalam peringatan May Day di Jakarta pada Jumat (1/5).
“Saudara-saudara sekalian. Rakyat butuh telur, rakyat butuh daging, rakyat butuh sayur, susu, ikan. Ekonomi kita hidup, petani-petani kita dapat penghasilan, saudara-saudara sekalian,” tambahnya.
Selain itu, kata Prabowo, MBG juga membuat uang terus beredar. Hal ini yang dianggap Prabowo membuat Indonesia tambah sejahtera.
Sampai 27 April 2026, realisasi anggaran MBG telah mencapai Rp 70,2 triliun atau 20,9 persen dari total pagu Rp 335 triliun. Berdasarkan bahan paparan Kementerian Keuangan, capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang tercatat sebesar Rp 55,3 triliun. Secara bulanan, penyerapan anggaran MBG terus menanjak sejak awal tahun.
Pada Januari 2026, realisasi tercatat Rp 19,55 triliun. Angka ini kemudian melonjak menjadi Rp 38,97 triliun pada Februari, dan kembali naik ke Rp 55,34 triliun di Maret. Memasuki April, realisasi mencapai Rp 70,19 triliun.
Meski nilai penyerapan meningkat, laju pertumbuhan bulanan program ini menunjukkan tren melandai. Pada Januari, pertumbuhan mencapai 99,36 persen, kemudian turun menjadi 41,99 persen di Februari, dan kembali melambat ke 26,85 persen pada April.
Dari sisi penerima manfaat, program MBG juga terus meluas. Hingga akhir April 2026, jumlah penerima telah mencapai 61,96 juta orang yang dilayani oleh 27.735 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Jika ditarik sejak akhir 2025, jumlah penerima terus bertambah secara konsisten. Pada Oktober tercatat 39,7 juta penerima, meningkat menjadi 43,9 juta pada November, lalu 50,8 juta pada Desember. Tren kenaikan berlanjut ke 60 juta pada Januari, 61,1 juta pada Februari, hingga mendekati 62 juta pada April.
Komposisi penerima didominasi oleh kelompok siswa, meski porsi nonsiswa juga terus meningkat seiring perluasan cakupan program.
