Prabowo Klaim Lembaga Global S&P Dukung Pembentukan PT DSI

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia berhasil menjaga kepercayaan lembaga pemeringkat global di tengah berbagai kekhawatiran yang sempat muncul terkait prospek investasi nasional, terutama setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Ia menyinggung S&P Global Ratings yang mempertahankan rating kredit Indonesia di level ‘BBB’ untuk jangka panjang dan ‘A-2’ untuk jangka pendek. Katanya, lembaga global tersebut justru menilai pembentukan PT DSI sebagai langkah yang tepat bagi Indonesia.
“(Katanya) kita akan diturunkan supaya nanti nggak ada yang mau investasi di Indonesia. Tapi ternyata S&P, mereka sendiri sudah umumkan bahwa Indonesia pembentukan PT DSI adalah tepat,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7).
Menurutnya, penilaian itu menunjukkan kebijakan pemerintah dinilai mampu memperkuat potensi peningkatan penerimaan negara. Selain itu, ia menegaskan S&P juga tetap mempertahankan outlook Indonesia pada level stabil serta mempertahankan peringkat investment grade tersebut menunjukkan keyakinan terhadap fundamental ekonomi nasional.
“Bukan kita selalu harus puas dengan rating bangsa lain, sekali lagi, percaya kepada kekuatan kita sendiri. Kita hidup di dunia global, tapi kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri,” tutur Prabowo.
Kata Prabowo, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi, mulai dari ketahanan pangan yang semakin terjaga, sektor energi yang dinilai cukup kuat, hingga ketersediaan sumber daya air yang melimpah apabila dikelola dengan baik.
“Lahan kita cukup, kita sudah buktikan rawa kita rubah jadi sawah. Rawa yang tidak bermanfaat, kita ubah jadi produktif,” lanjut Prabowo.
Prabowo optimistis berbagai langkah tersebut akan semakin meningkatkan posisi Indonesia di mata dunia. Ia meyakini Indonesia memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu lumbung pangan dunia.
“Saya yakin dan percaya kita akan jadi lumbung pangan dunia,” ucap Prabowo.
Sebelumnya, S&P Global Ratings membuka peluang kenaikan peringkat kredit Indonesia, asalkan kondisi fiskal dan eksternal negara menguat secara struktural dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam pengumumannya yang dikutip Senin (20/7), S&P Global menyebut peringkat Indonesia berpotensi naik jika defisit fiskal menyempit hingga mendekati 1 persen dari PDB secara berkelanjutan. Penyempitan ini perlu diiringi peningkatan penerimaan pemerintah secara signifikan, penurunan biaya pembiayaan, serta nilai tukar yang stabil.
“Hal ini dapat terjadi jika defisit fiskal menyempit hingga mendekati 1 persen dari PDB secara berkelanjutan, seiring dengan meningkatnya penerimaan pemerintah secara signifikan, menurunnya biaya pembiayaan, serta stabilnya nilai tukar,” tulis S&P Global.
Selain dari sisi fiskal, S&P Global juga menyoroti dua indikator eksternal yang bisa mendorong kenaikan peringkat. Pertama, utang luar negeri bersih Indonesia perlu turun hingga di bawah 50 persen dari penerimaan transaksi berjalan. Kedua, kebutuhan pembiayaan eksternal bruto atau gross external financing needs perlu turun menjadi di bawah 50 persen dari total penerimaan transaksi berjalan dan cadangan devisa yang dapat digunakan.
