Prabowo: Nuklir Bukan Cuma Buat Senjata, tapi Energi Paling Bersih

26 Februari 2025 8:45 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden RI Prabowo Subianto memberikan sambutan pada penutupan Kongres VI Partai Demokrat 2025 di Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Selasa (25/2/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden RI Prabowo Subianto memberikan sambutan pada penutupan Kongres VI Partai Demokrat 2025 di Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Selasa (25/2/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Presiden Prabowo Subianto mengatakan nuklir bukan hanya untuk senjata. Akan tetapi, dia melihat nuklir merupakan salah satu energi baru terbarukan (EBT) dan salah satu energi paling bersih.
ADVERTISEMENT
Hal ini diutarakan Prabowo saat membahas soal tantangan-tantangan yang dihadapi setiap Presiden Indonesia dalam sambutannya di acara Kongres Partai Demokrat, dikutip Rabu (26/2).
Dia menyoroti langkah Presiden Soekarno yang membuat lembaga atau instansi yang mengurusi tenaga atom, padahal waktu itu kondisi pemerintahan juga sosial masyarakat belum stabil seperti hari ini.
Menurut Prabowo, hal ini dilakukan Soekarno, karena memikirkan banyaknya manfaat nuklir untuk Indonesia.
“Waktu rakyat masih lapar beliau berpikir nuklir tidak hanya untuk senjata, ternyata nuklir untuk kesehatan, benih-benih padi, terutama nuklir untuk energi, ternyata energi terbarukan, energi paling bersih di antaranya nuklir,” kata Prabowo
Meskipun selain memanfaatkan nuklir, Prabowo juga memahami Indonesia memiliki cadangan energi geothermal juga air. Keduanya juga bisa dimanfaatkan untuk energi baru terbarukan atau energi bersih.
ADVERTISEMENT
“Air juga sangat besar, jadi belum lagi semua yang kita mengerti sumber alam dan kekayaan tantangan ada yang kita hadapi,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini Prabowo menyoroti cita-cita pendiri bangsa adalah ingin Indonesia berhasil, aman, adil dan makmur.
Maka setiap pemimpin yang menduduki kursi kepresidenan harus memahami setiap tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Pemimpin Indonesia juga harus memikirkan kebangkitan bangsa yang membutuhkan waktu lama, bisa mencapai puluhan tahun. “Ibarat kata mendirikan bangunan di atas pondasi, pilar-pilar yang kokoh, tonggak-tonggak yang kokoh,” tuturnya.