Prabowo Singgung Kemiskinan Bertambah: Sistem Ekonomi di Lintasan yang Tak Tepat
·waktu baca 2 menit

Presiden Prabowo Subianto menjawab alasan mengapa pertumbuhan ekonomi tak selaras dengan penurunan angka kemiskinan. Menurutnya, hal ini karena trajectory atau lintasan sistem perekonomian Indonesia tidak tepat.
Dalam paparannya pada pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (20/5), ia menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia dalam kurun waktu 7 tahun terakhir atau 2017-2024 telah tumbuh pada kisaran 35 persen.
“Saya bertanya kepada semua partai politik, ormas, saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan guru besar bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?” kata Prabowo dalam pidatonya.
“Saudara-saudara, jawaban harus ilmiah, matematis dan menurut saya jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar, bukan kemungkinan, saya yakin sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajectory yang tidak tepat,” lanjutnya.
Perhitungan perekonomian Indonesia 2017-2024 tumbuh sebesar 35 persen didasarkan pada rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 5 persen.
Sementara untuk data angka kemiskinan, Prabowo menunjukkan dari 2017-2024, angka penduduk miskin dan rawan miskin justru naik dari 46,1 persen menjadi 49,5 persen. Dengan begitu, kenaikan terjadi sekitar 3,4 persen atau 9,6 juta orang.
“7 tahun kali 5 persen, 35 persen ekonomi kita tumbuh tapi rakyat kita yang miskin tambah, dari 46,1 persen jadi 49,5 persen, 3 persen naiknya, yang kelas menengah turun,” ujar Prabowo.
Sementara untuk data penduduk kelas menengah, Prabowo memaparkan dalam kurun waktu yang sama turun dari 22,1 persen menjadi 17,4 persen. Dengan begitu, penurunan terjadi 4,7 persen atau 13,3 juta orang.
