Kumparan Logo

Prabowo Soroti Penerimaan RI Terendah di G20: Bedanya Apa Kita Sama Malaysia?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan paparan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027 di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan paparan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027 di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Presiden Prabowo Subianto menyoroti rasio penerimaan Indonesia yang paling rendah jika dibandingkan dengan negara G20 lainnya. Padahal, kata Prabowo, Indonesia saat ini menjadi pengekspor batu bara terbesar di dunia dengan devisa ekspor mencapai sekitar USD 30 miliar atau setara Rp 510 triliun pada 2025.

Selain itu, Indonesia juga disebut telah menjadi pengekspor ferro alloys atau paduan besi terbesar di dunia dengan nilai devisa ekspor mencapai USD 16 miliar atau sekitar Rp 272 triliun pada tahun yang sama. Dalam paparan Prabowo, tiga komoditas strategis tersebut secara total menghasilkan devisa lebih dari USD 65 miliar atau sekitar Rp 1.100 triliun per tahun.

“Hari ini Indonesia sebagai negara Anggota G20, tapi rasio belanja negara kita terhadap produk domestik bruto kita adalah yang paling rendah di antara negara-negara G20,” kata Prabowo dalam Rapat Paripurna di DPR RI, Jakarta Selatan, Rabu (20/5).

Berdasarkan data terbaru International Monetary Fund yang ia paparkan, rasio pendapatan negara Meksiko mencapai 25 persen terhadap PDB, India 20 persen, Filipina 21 persen, dan Kamboja 15 persen, sementara Indonesia masih berada di kisaran 11 persen dari PDB.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (ketiga kiri) menghadiri Rapat Paripurna DPR RI di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

“Kita harus introspeksi dan sadar dan berani bertanya, kenapa kita tidak bisa kelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan Filipina, Meksiko. Sekarang pun di bawah Malaysia, apa yang sebabkan kita tidak mampu? Bedanya apa kita sama Malaysia, Kamboja,” tutur Prabowo.

Di sisi lain, ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tujuh tahun terakhir sebenarnya cukup baik, yakni rata-rata sekitar 5 persen per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, ia menilai seharusnya Indonesia telah mengalami peningkatan kesejahteraan yang signifikan.

“Selama tujuh tahun kali 5 persen pertumbuhan kita 35 persen, harusnya kita tambah kaya 35 persen. Tapi apa yang terjadi, saya mengajak kita jujur kepada diri sendiri dan kepada rakyat kita, (data) ini mungkin menyakitkan bagi kita,” ucap Prabowo.

instagram embed