Prancis Dilanda Aksi Jual Obligasi di Gelombang Demonstrasi

Prancis tengah menghadapi tekanan di pasar keuangan di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi politik dan fiskal negara tersebut. Aksi jual di pasar obligasi dan saham melanda setelah gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan pada akhir pekan menyebabkan ribuan orang ditangkap.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun melonjak hingga 16 basis poin menjadi 4,94 persen pada Senin (19/10), mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Kenaikan imbal hasil ini menunjukkan harga obligasi turun sekaligus berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Tekanan tersebut juga memperlebar selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman bertenor 10 tahun hingga mendekati level tertinggi dalam 14 tahun. Selisih ini menjadi salah satu indikator premi risiko yang diminta investor untuk memegang surat utang Prancis dibandingkan obligasi Jerman.
Melansir The Guardian, kerusuhan pada akhir pekan mengakibatkan sejumlah gedung publik dibakar dan ratusan toko dijarah di berbagai wilayah Prancis. Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa ketidakstabilan politik dapat menghambat upaya pemerintah menekan belanja dan mengurangi utang negara.
Analis Goldman Sachs menilai risiko utang negara-negara Eropa kembali menjadi perhatian pasar. Tantangan fiskal sejumlah negara, terutama Prancis, dinilai semakin sulit diatasi dibandingkan periode krisis utang zona euro pada 2011-2015.
“Risiko eskalasi pasar yang tidak terkendali dan penularan ke perekonomian riil tampak jauh lebih rendah. Namun, tantangan fiskal mendasar di sejumlah negara, terutama Prancis, kini tampak lebih sulit diatasi dibandingkan periode 2011-2015,” kata Goldman Sachs.
Bank investasi tersebut juga menilai kawasan euro masih membutuhkan konsolidasi fiskal yang kredibel untuk menangani risiko utang negara.
Tekanan turut terjadi pada obligasi pemerintah Prancis bertenor dua tahun, yang imbal hasilnya naik sembilan basis poin menjadi 3,64 persen, sedangkan imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun meningkat 10 basis poin menjadi 5,46 persen.
Saham dan euro turut melemah
Ketidakpastian politik Prancis turut menekan pasar saham dan nilai tukar euro. Indeks CAC 40, yang mencerminkan pergerakan saham perusahaan-perusahaan besar di Prancis, turun 1,4 persen pada Senin. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan indeks Stoxx 600 pan-Eropa yang melemah 1,1 persen.
Euro juga melemah terhadap pound sterling hingga mencapai level terendah dalam 17 bulan pada Senin pagi. Terhadap dolar Amerika Serikat (AS), euro sempat turun 0,4 persen menjadi USD 1,1197.
Jim Reid dari Deutsche Bank mengatakan kerusuhan tersebut menambah risiko politik bagi pasar, terutama karena kondisi fiskal Prancis sudah sulit dan pemilihan umum 2027 semakin dekat.
Menurut Reid, situasi tersebut dapat membuat investor semakin berhati-hati dalam membeli Obligations Assimilables du Trésor (OAT), sebutan untuk obligasi pemerintah Prancis.
