Produk Pertanian Pinggiran Jakarta Diminati Pasar Korsel hingga Swedia

Bagas Suratman menekuni profesi sebagai petani perkotaan yang mengelola lahan pertanian seluas 26 hektare (ha). Lokasi lahan pertaniannya berada di Teluk Naga, tak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Bagas boleh dibilang populasi minoritas yang kini mendobrak citra petani Indonesia. Kini dia menjadi petani perkotaan yang sukses karena bisa mempekerjakan 50 orang hingga memiliki mitra petani binaan di Jawa Timur dan Sumatera.
Sembari menuju gubuk untuk menghindari panas yang semakin terik, ia menjelaskan peluang pertanian di Indonesia sebenarnya sangat besar. Bahkan ia menyebut ada banyak peluang pasar ekspor dari negara-negara Eropa yang belum bisa terpenuhi dalam negeri. Masih banyak petani lokal yang belum mengetahui potensi-potensi pasar ekspor.
“Norwegia minta (produk pertanian), Swedia minta karena kita nyari petani dulu mana yang mau nanam gitu,” katanya kepada kumparan saat ditemui sembari duduk di gubuk sawahnya, Jumat (26/4).
Sejauh ini Bagas tengah megembangkan labu butternut, kadang-kadang dikenal di Australia dan Selandia Baru sebagai butternut labu. Rencananya dalam waktu dekat, Bagas akan mengekspor labu butternut ke Korea Selatan.
Adapun ekspor ini, Bagas bekerjasama dengan pihak eksportir. Menurut Bagas, kontrak kepada eksportir akan dilakukan dengan jangka waktu 6 bulan hingga 1 tahun.
Bagas menyebut kebutuhan labu butternut di Korea Selatan mencapai 250 ton per minggu. Sebagian besar labu butternut untuk bahan makanan balita.
“Itu lebih bagus dibanding Nestle atau Promina,” katanya.
Adapun pengembangan komoditas ini akan dilakukan bersama mitra pentaninya di berbagai daerah, seperti di Sumatera dan Jawa Timur. Ia memilih lokasi tersebut lantaran tanah yang dinilai cocok untuk bercocok tanam labu butternut.
Selain soal tanah Bagas juga mempertimbangkan biaya logistik yang jauh lebih murah dibanding lokasi sebelumnya di Kalimantan dan Sulawesi.
“Ongkos kirimnya udara sekarang kan mahal, jadi itu salah satu pertimbangannya,” katanya.
Untuk proyek labu butternut ini, ia membuka lahan seluas 1.400 m2. Bagas memproyeksikan produksi bisa mencapai 25 ton per ha. Hanya saja memang produksi juga dipengaruhi cuaca dan pengelolaan.
Bagas mengakui pasar ekspor lebih menguntungkan petani dibanding pasar dalam negeri. Margin keuntungan mencapai 20-30 persen untuk pasar ekspor.
“Kalau ekspor range margin ya adalah pokoknya petani sangat untung sekali,” lanjutnya.
Hanya saja pasar dalam negeri mulai bergeliat menjelang bulan Ramadhan, permintaan produk pertanianya naik hingga 50 persen dibanding bulan-bulan biasa.
Memang pemasaran Bagas tokcer karena bukan hanya mendistribusikan ke pasar-pasar besar tradisional saja. Saat ini, ada 4 pasar modern yang membeli produk-produk pertanian berkualitas milik bagas.
“Biasanya per 6 bulan atau 1 tahun itu revisi kontrak,” ucapnya.
Secara keseluruhan, Bagas menanam 28 lebih bibit sayuran dan buah-buahan. Bapak dari tiga anak ini mengaku mendapatkan bibit pertanian yaitu dealer bibit.
Sementara untuk pengairan sawah, ia memanfaatkan irigasi dari Sungai Cisadane. Dari sana, air dialirkan hingga ke petak sawah yang disewanya. Pengairan seperti ini menurutnya lebih memudahkan karena sistem pengairan menggunakan irigasi lebih optimal.
“Pengairan irigasi udah jalan dari Bendungan Cisadane nah dari situ,” lanjutnya.
Bagas menjelaskan salah satu kunci sukses di pasar modern adalah kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Hal inilah yang membuat 4 pasar modern terbesar di Indonesia mengambil produk-produk pertanian produksinya.
Khusus untuk bertani di perkotaan, dia bilang memang memiliki tantangan tersendiri. Pertama tentu saja terkait lahan. Lahan bertani di perkotaan semakin sempit. Bagas mengakui lahan seluas 26 ha masih menyewa langsung kepada perseorangan.
Persoalan lain yang menjadi tantangan yaitu seperti cuaca dan human error (kesalahan teknis).
“Itu karena cuaca, human error manusia juga bisa waktunya nyemprot enggak disemprot gitu,” sebutnya.
