Produksi Baterai EV di RI Mulai April, Harga Mobil Listrik Bisa Turun 30 Persen

29 Maret 2024 14:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memberikan sambutan saat acara Business Matching 2024 "Belanja Produk Dalam Negeri" yang diselenggarakan di Sanur, Bali, Kamis (7/3/2024). Foto: Dok. Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memberikan sambutan saat acara Business Matching 2024 "Belanja Produk Dalam Negeri" yang diselenggarakan di Sanur, Bali, Kamis (7/3/2024). Foto: Dok. Pertamina
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Hilirisasi nikel di Indonesia untuk pertama kalinya akan membuahkan hasil dengan produksi sel baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) perdana oleh PT Hyundai LG Indonesia (HLI) yang ditarget pada April nanti.
ADVERTISEMENT
PT HLI pada tahap pertama ini menyerap investasi sebesar USD 1,1 miliar dan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 gigawatt/hour (GWh), terdiri dari 32,6 juta sel baterai yang dapat menghasilkan kurang lebih 150.000 kendaraan listrik.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bila Indonesia mampu produksi baterai listrik sendiri akan meningkatkan TKDN produk dalam negeri. Selain itu harga per unit mobil listrik atau electric vehicle (EV) bisa lebih murah.
"Kalau sekarang itu baterai komponennya 40 sampai 50 persen dari total harga EV. Nanti kalau sudah diproduksi dalam negeri saya kira akan ada penurunan 20 sampai 30 persen mobil EV," kata Agus saat media gathering di kediamannya di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Kamis (28/3) malam.
ADVERTISEMENT
Dengan harga mobil EV yang bisa lebih murah, Agus menilai hal itu dapat meningkatkan daya saing produk mobil listrik yang diproduksi di Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin tahun lalu sempat memaparkan simulasi perbandingan harga mobil listrik di berbagai negara di ASEAN dengan di Indonesia. Rachmat memberikan komparasi hitung-hitungan mobil EV di negara Malaysia, Thailand, dan Indonesia dengan masing-masing kebijakan mereka.
Di Malaysia, diterapkan pembebasan bea masuk, pembebasan PPnBM, pembebasan PPN, pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Dan pemberian insentif cash USD 560. Maka bila harga mobil misal awalnya USD 20.000, setelah insentif-insentif itu menjadi USD 19.440.
Sementara di Indonesia, masih dikenakan PPN 1 persen sehingga dengan harga USD 20.000 itu, di Indonesia menjadi USD 20.220. Rachmat mengatakan, sebenarnya potensi pasar kendaraan listrik di Malaysia tidak lebih besar dari Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Tapi mereka juga sangat agresif untuk mendukung ini. Bea masuk dibebaskan dan insentif-insentif untuk pembeli," kata Rachmat.
Sama dengan Indonesia, Thailand juga masih menerapkan PPN bahkan 7 persen, dan PPnBM 2 persen. Bedanya, Thailand memberikan insentif cash sebesar USD 2.032 sehingga dari harga awal yang dicontohkan sebesar USD 20.000, menjadi hanya USD 19.796, lebih murah dari Indonesia. Rachmat mengatakan Thailand saat ini menjadi kompetitor utama Indonesia.
"Dia punya kapasitas produksi yang cukup signifikan dan dia punya beberapa insentif yang diberikan. Bahkan bentuknya bukan hanya bea masuk, bukan hanya insentif fiskal tapi dia kasih cash subsidi sehingga mobil itu jadi terjangkau bagi masyarakat sana," tuturnya.