Produksi Minyak Mentah Arab Saudi Anjlok, Terendah Sejak 1990
ยทwaktu baca 3 menit

Pemerintah Arab Saudi melaporkan kepada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa produksi minyak mentahnya semakin anjlok pada bulan lalu, menjadi level terendah sejak 1990, karena perang Iran menghambat ekspor dari Teluk Persia.
Dikutip dari Bloomberg, kerajaan tersebut mencatat produksi minyak mentah turun lagi sebesar 651.000 barel per hari pada April 2026, menjadi 6,316 juta barel per hari, menurut laporan bulanan dari sekretariat OPEC.
Hal tersebut menambah kerugian sejak Februari menjadi 42 persen, dan menandai level terendah sejak dimulainya Perang Teluk 36 tahun yang lalu, ketika negara anggota OPEC, Irak, menyerang sesama anggota Kuwait.
Perang AS dengan Iran memblokir pengiriman minyak dari Teluk Persia dan menyebabkan penurunan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak. Imbasnya, harga bahan bakar telah melonjak, meningkatkan risiko resesi global.
Riyadh memberi tahu bahwa pasokan ke pasar, tidak termasuk pergerakan ke penyimpanan, sedikit lebih tinggi daripada produksi, yaitu 6,879 juta barel per hari.
Selain angka-angka yang dikomunikasikan langsung oleh anggota OPEC kepada sekretariat kelompok di Wina, laporan tersebut juga mencakup serangkaian perkiraan yang dikumpulkan dari perkiraan oleh konsultan eksternal dan media, yang dikenal sebagai sumber sekunder.
Data ini menunjukkan produksi dari anggota OPEC kembali anjlok pada April, merosot sebesar 1,727 juta barel per hari menjadi rata-rata 18,98 juta barel per hari, dengan Arab Saudi menyumbang sekitar setengah dari penurunan tersebut.
Dengan demikian, data tersebut menempatkan produksi Arab Saudi sedikit lebih tinggi daripada pengajuan resminya, yaitu 6,768 juta barel per hari.
Keluarnya UEA
Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan pada bulan lalu bahwa mereka berencana meninggalkan organisasi OPEC pada Mei 2026 setelah sekitar enam dekade menjadi anggota.
Abu Dhabi mengumumkan pengunduran dirinya secara mengejutkan setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan dengan pemimpin kelompok, Arab Saudi, terkait kuota produksi OPEC, serta perselisihan mengenai isu-isu politik regional. Statuta OPEC menyatakan bahwa UEA secara teknis akan tetap menjadi anggota hingga 1 Januari.
Meskipun kerugian produksi yang ditimbulkan pada Arab Saudi akibat perang sangat besar, kemampuan kerajaan untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak dari Teluk melalui jalur pipa lain ke Laut Merah telah mengurangi dampaknya. UEA juga memiliki jalur alternatif untuk sebagian ekspornya.
Negara-negara Teluk lainnya terkena dampak yang lebih parah. Penurunan terbesar kedua pada April terjadi di Kuwait, yang produksinya hampir berkurang setengahnya menjadi hanya 600.000 barel per hari, menurut laporan tersebut. Kuwait sekarang memproduksi kurang dari seperempat dari level sebelum perang.
OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada tahun 2026 menjadi 1,2 juta barel per hari dari 1,4 juta barel per hari. Namun, proyeksi kelompok ini masih sangat berbeda dengan perkiraan para analis lainnya.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya pada Rabu pagi mengatakan bahwa permintaan dunia akan menyusut sebesar 420.000 barel per hari tahun ini, penurunan paling tajam sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020.
