Program Biodiesel B40 Hemat Devisa Negara Rp 60,37 Triliun
·waktu baca 2 menit

Pemerintah resmi meningkatkan program mandatori biodiesel dari B35 menjadi B40 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2025. Program ini berhasil menghemat devisa negara hingga USD 3,68 miliar atau setara Rp 60,37 triliun sepanjang 2025.
Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan selain menghemat devisa, penerapan B40 juga berkontribusi terhadap pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel.
“B40 juga meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel senilai Rp 9,51 triliun,” kata Lana dalam acara kumparan Green Initiative Conference (GIC) 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9).
Meski demikian, Lana menyoroti adanya sejumlah tantangan dalam pembangunan energi baru terbarukan (EBT). Tantangan tersebut meliputi teknologi, rantai pasok, ketersediaan infrastruktur, pendanaan, serta transisi energi yang berkeadilan.
“Untuk menjawab tantangan ini diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, baik dari sisi keterampilan, pengetahuan, maupun sikap dalam mendukung target net zero emission,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan energi hijau juga perlu diiringi dengan penciptaan green jobs melalui pemetaan komprehensif terhadap kompetensi SDM sesuai kebutuhan industri. Hal ini juga harus disinergikan dengan kurikulum pendidikan, khususnya pendidikan vokasi.
“Harus kami sampaikan bahwa hilirisasi adalah bagian dari strategi kemandirian bangsa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045,” tegas Lana.
Menurutnya, visi tersebut bisa dicapai dengan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah, industrialisasi yang kuat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan pendapatan per kapita, serta penguatan daya saing industri nasional.
Lebih lanjut, Lana menekankan bahwa mineral yang dihasilkan sejumlah badan usaha juga memiliki peran strategis dalam mendukung transisi global menuju energi ramah lingkungan. Peran tersebut mencakup aspek pembangkitan, transmisi, distribusi, hingga penyimpanan energi, termasuk pengembangan kendaraan listrik.
Reporter: Nur Pangesti
