Program PLTS 100 GW Berpotensi Hemat Anggaran Negara Rp 73,9 T per Tahun

Indonesia sedang mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW). Hal itu disebut bisa menghemat anggaran negara hingga Rp 73,9 per tahun.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Qodari menjelaskan angka tersebut merupakan asumsi penghematan dari jumlah bahan bakar diesel untuk listrik yang dihemat.
“Di sinilah urgensi program ini melalui program PLTS 100 GW penggunaan bahan bakar diesel diperkirakan dapat dihemat hingga 6 juta kiloliter per tahun dan negara berpotensi menghemat anggaran hingga Rp 73,9 triliun per tahun,” kata Qodari dalam dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).
Saat ini energi surya yang dimanfaatkan masih kurang dari 1 persen terhadap keseluruhan potensi yang ada menurut Qodari. Per Juli 2026 lalu saja, kapasitas PLTS secara nasional yang terpasang baru mencapai 1,76 GW. Adapun secara keseluruhan, total potensi energi surya yang ada mencapai 3.294 GW.
Di samping itu, program PLTS 100 GW juga membuka peluang masuknya investasi yang nantinya juga bisa menyerap tenaga kerja. Qodari menjelaskan, jumlah peluang investasinya mencapai Rp 1.140 triliun dengan serapan tenaga kerja hingga 5 juta lebih.
“Diperkirakan menciptakan lapangan kerja bagi 5,52 juta pekerja. Kesiapan industri dalam negeri turut menjadi modal karena kapasitas industri panel surya domestik telah mencapai lebih dari 10 GW. Karena itu, program PLTS 100 GW bukan sekadar penambahan kapasitas pembangkit, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kemandirian, ketahanan, dan keberlanjutan energi Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menjelaskan bahwa ia akan mempermudah pengembangan proyek PLTS 100 GW itu. Hal itu dilakukan dengan memangkas birokrasi dalam proses tender atau lelang.
Bahlil mengungkapkan bahwa dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PT PLN (Persero) berencana menambah kapasitas pembangkit hingga 69,5 GW.
Dari 69,5 GW tersebut, 70 persen merupakan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan PLN juga harus membangun jaringan transmisi hingga 48.000 kilometer dengan nilai investasi hingga Rp 2.700 triliun. Namun, RUPTL tersebut belum mencakup proyek 100 GW PLTS.
