Kumparan Logo

Proyek Food Estate Masih Jalan, Kementerian PUPR Beberkan Kendalanya

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada kegiatan food estate yang berada di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/3/2022). Foto: Kementan RI
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada kegiatan food estate yang berada di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/3/2022). Foto: Kementan RI

Kementerian PUPR memastikan proyek kebanggaan Presiden Jokowi di sektor pangan, food estate, masih berjalan meski ada kendala yang mengadang.

Juru Bicara Kementerian PUPR, Endra S Atmawidjaja, menuturkan progres terakhir proyek food estate terlihat di Keerom, Papua, di mana Jokowi baru saja meninjaunya pada 21 Maret 2023 lalu.

"Masih jalan prosesnya, yang terakhir di Keerom," ujarnya kepada wartawan di kantor Kementerian PUPR, Jumat (26/5).

Meski demikian, Endra mengungkapkan berbagai kendala pengerjaan proyek food estate sehingga dinilai lambat oleh berbagai pihak, salah satunya sempat disentil oleh Komisi IV DPR RI.

"Cuma isunya kalau food estate itu memang sinkronisasi dengan program pertanian, jadi kalau airnya sudah ada bendungannya sudah ada, lahannya sudah ada, tinggal petaninya yang harus disiapkan. Itu harus dicari formulanya," jelas Endra.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menanggapi kritik Ketua Komisi IV DPR, Sudin, terkait program food estate yang dianggap bermasalah. Ia mengatakan ada banyak tantangan yang dihadapi dalam membuat program food estate tersebut.

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada kegiatan food estate yang berada di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (24/3/2022). Foto: Kementan RI

"Jangan kalau lihat lahan yang ada di sini, di Jawa dengan di Kalimantan yang rawa itu. Tak bisa seperti (semudah) balik tangan. Tapi kita punya lahan baru, kurang lebih 62 ribu hektare," kata Syahrul saat ditemui usai Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Senin (16/1).

Syahrul menegaskan menjalankan program food estate bukan perkara mudah. Menurutnya, ada banyak tantangan seperti masalah lahan, hama, cuaca, hingga persoalan sosial masyarakat di kawasan food estate. Sehingga dibutuhkan proses dan kesabaran dalam membangun program itu.

Meski begitu, Syahrul meminta semua pihak harus tetap optimistis. Dia mencontohkan seperti lahan di Papua yang bisa dimaksimalkan untuk program food estate.

"Itu harus kita jadikan lahan produksi dan itu butuh tahapan. Kita perbaiki sekarang ini tentu saja lahannya ada irigasi dan lain-lain, belum tentu in out air di situ bisa normal. Karena air dari bawah juga masih naik setiap saat, karena kondisi ini jangan lihat seperti Jawa loh. Tapi kita harus optimis," tutur Syahrul.

instagram embed