Proyek Pembangkit Listrik Sampah di Bandung Mulai Digarap, Investasi Rp 7,5 T

Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka, Kabupaten Bandung, resmi dimulai Rabu (29/7) ini. Nilai investasi proyek ini mencapai USD 400 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun.
Peresmian ditandai dengan seremoni groundbreaking, disertai penandatanganan kerja sama pengembangan waste to energy di Jawa Barat.
Proyek ini merupakan PSEL pertama yang menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) bersama PT Jabar Environmental Solutions (PT JES), dengan fasilitas VGF sebesar Rp 1,34 triliun dari Kementerian Keuangan.
Selain itu, skema pendanaan juga dilakukan melalui skema JCM senilai USD 46 juta dan investasi internasional sebesar EUR 35 juta. Investasi ini juga untuk mendukung pemerintah setempat dalam manajemen sampah di hulu dan pelatihan.
"Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik Legok Nangka secara resmi kita mulai," kata Wamen ESDM Yuliot Tanjung dalam sambutannya, Rabu (29/7).
PSEL Legok Nangka dirancang dengan kapasitas pembangkit sebesar 40,79 megawatt. Selama masa konstruksi, proyek ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.565 tenaga kerja.
Selain menjadi solusi atas persoalan sampah perkotaan dan menghasilkan energi bersih, proyek ini juga diproyeksikan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 311.874 ton CO₂ ekuivalen. Masa konstruksi akan berlangsung selama kurang lebih 41 bulan dengan target Commercial Operation Date (COD) pada 2029.
"Kami mengharapkan pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan percepatan sehingga PSEL Legok Nangka dapat beroperasi lebih awal. Untuk itu, diperlukan dukungan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, PT PLN (Persero), pengembang, lembaga pembiayaan, maupun dari masyarakat," tuturnya.
Yuliot pun mengapresiasi Pemprov Jawa Barat yang mendukung percepatan pembangunan PSEL tersebut, serta perusahaan Jepang yang melakukan investasi di bidang waste to energy yakni Sumitomo Corporation dan Hitachi Zosen Corporation, yang berkongsi dengan perusahaan nasional yaitu PT Energia Prima Nusantara.
PSEL tersebut akan mengelola sampah sekitar 1.853 sampai 2.131 ton per hari yang dipasok dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut.
Sementara rencana sumber pendapatan berasal dari tipping fee senilai Rp 386.000 per ton sampah. Harga listriknya yakni USD 6,92 sen/KWh untuk tahun 1-2 berdasarkan kesepatakan B2B dengan PT PLN, kemudian USD 11,44 sen/KWh pada tahun 3-20 berdasarkan Perpres No 35 Tahun 2018.
