Proyek PSEL Tahap 2 Bisa Buka Ribuan Lapangan Kerja Hijau

Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) tahap kedua punya potensi menyerap hingga 1.200 tenaga kerja per lokasi. Ini diungkapkan CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) Fadli Rahman.
Denera bersama PT Danantara Investment Management (DIM) telah mengumumkan 8 mitra untuk proyek PSEL tahap kedua untuk 20 kabupaten/kota.
"Masing-masing lokasi itu berpotensi penciptaan lapangan kerja itu 900 sampai 1.200 (lapangan kerja)," jelas Fadli di Wisma Danantara, Senin (13/7).
Fadli menjelaskan, potensi penciptaan lapangan kerja ini untuk semua rantai pasok dari ujung ke ujung. Sementara khusus untuk sektor konstruksi, membutuhkan 250 sampai 300 tenaga kerja.
Sementara untuk nilai investasi untuk satu PSEL, bisa mencapai Rp 3 triliun sampai Rp 3,5 triliun.
Berikut daftar 8 mitra terpilih PSEL tahap 2:
Medan Raya, SUEZ-IAN Consortium (SUEZ Insan Asia)
Kabupaten Bekasi, Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni)
Lampung Raya, Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas)
Serang Raya, proyek dimenangkan oleh Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE)
Semarang Raya, Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd. (Veolia)
Surabaya Raya, Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS)
Bogor Raya 2, MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA)
Yogyakarta Raya, Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC).
Penetapan mitra terpilih pada setiap lokasi masih bersifat bersyarat (conditional) dan tunduk pada pemenuhan seluruh persyaratan pengadaan yang berlaku.
Pemilihan mitra PSEL tahap kedua menunjukkan daya tarik Indonesia yang sangat baik sebagai tujuan investasi infrastruktur lingkungan. Sejumlah perusahaan yang selama puluhan tahun menjadi pemimpin industri pengelolaan limbah dan Waste-to-Energy dunia turut mengikuti proses seleksi, mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap prospek pengembangan PSEL di Indonesia.
"Keterlibatan perusahaan-perusahaan Waste-to-Energy terkemuka dunia menunjukkan bahwa Indonesia semakin dipercaya sebagai tujuan investasi. Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat transfer teknologi, membangun kapasitas nasional, dan memperkuat ekosistem industri pengelolaan sampah di Indonesia," ujar Chief Executive Officer DIM Pandu Sjahrir.
