Proyeksi Bank Dunia: Harga Minyak Tembus USD 115/Barel, Mereda Akhir Mei 2026
·waktu baca 3 menit

Bank Dunia memperingatkan harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga USD 115 per barel tahun ini apabila gangguan pasokan akibat perang di Iran berlangsung lebih lama dan semakin memburuk.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026, Bank Dunia menyebut perang di kawasan tersebut telah memicu guncangan besar pada pasar energi global, terutama karena terganggunya jalur distribusi utama di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Gangguan ini berdampak langsung pada pasokan. Pada Maret 2026, suplai minyak global turun sekitar 10 juta barel per hari, menjadi salah satu guncangan pasokan terbesar yang pernah terjadi.
Kondisi tersebut langsung mendorong lonjakan harga. Minyak Brent melonjak dari USD 72 per barel pada akhir Februari menjadi USD 118 per barel di akhir Maret, kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah. Meski sempat mereda pada April setelah adanya gencatan senjata, harga masih bertahan di kisaran USD 90-an per barel atau lebih dari 50 persen di atas level awal tahun.
Bank Dunia menegaskan arah harga ke depan sangat bergantung pada perkembangan perang, termasuk perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam skenario risiko, harga minyak dapat melesat jauh di atas proyeksi dasar.
“Jika gangguan di Timur Tengah berlangsung lebih lama atau lebih parah dari perkiraan, harga minyak Brent pada 2026 dapat rata-rata berada di kisaran 95 hingga 115 dolar AS per barel," tulis Bank Dunia, dikutip Rabu (29/4).
Dalam skenario dasar, Bank Dunia memperkirakan fase paling parah dari gangguan pasokan akan terjadi dalam waktu dekat dan mulai mereda sekitar Mei 2026.
Dengan asumsi tersebut, harga minyak Brent diproyeksikan rata-rata sekitar USD 86 per barel sepanjang 2026, naik tajam dari USD 69 per barel pada 2025.
“Proyeksi dasar komoditas didasarkan pada asumsi bahwa fase paling akut dari gangguan pasokan akibat perang di Iran akan berakhir pada Mei," terangnya.
Indeks harga energi diperkirakan naik 24 persen pada 2026 akibat berkurangnya ekspor dari Timur Tengah. Ini merupakan kejutan besar dibanding proyeksi awal tahun. Pada 2027, harga energi diperkirakan turun kembali sebesar 17 persen.
Harga minyak menjadi faktor utama. Setelah rata-rata USD 69 per barel di awal 2026, harga naik ke sekitar USD 100 pada Maret-April. Dalam jangka pendek, harga diperkirakan tetap tinggi karena pasokan masih terganggu.
"Namun, jika ekspor pulih pada paruh kedua tahun ini, harga diperkirakan rata-rata sekitar USD 86 per barel pada 2026, sebelum turun ke sekitar USD 70 pada 2027," kata Bank Dunia.
Konsumsi minyak global diperkirakan sedikit menurun karena harga tinggi, sementara produksi global diproyeksikan turun 1,5 persen, salah satu penurunan terbesar dalam 40 tahun. Produksi diperkirakan pulih kembali di akhir 2026, bahkan berpotensi menciptakan surplus pasokan.
Harga gas Eropa diproyeksikan naik 25 persen pada 2026 dan turun 20 persen pada 2027. Kenaikan ini disebabkan berkurangnya pasokan LNG, yang membuat Eropa bersaing dengan Asia. Harga LNG diperkirakan tetap tinggi selama gangguan pengiriman masih terjadi.
Harga gas AS relatif lebih stabil karena tidak bergantung pada Timur Tengah. Setelah naik tajam pada 2025, harga diperkirakan naik lebih moderat pada 2026 dan 2027. Konsumsi gas global cenderung stagnan karena banyak negara mengurangi penggunaan akibat harga tinggi.
Harga batu bara diperkirakan naik 20 persen pada 2026 karena menjadi alternatif pengganti gas, terutama di Asia, lalu turun kembali pada 2027.
