PSEL Bekasi Mulai Dibangun, Bisa Olah 1.500 Ton Sampah per Hari

Danantara Indonesia meresmikan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi pada Rabu (26/8). Proyek ini menjadi fasilitas PSEL kedua yang mulai dibangun setelah PSEL Denpasar Raya pada Juli 2026.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir membeberkan PSEL yang berlokasi di Ciketing Udik, Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat ini ditargetkan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari.
“(Kapasitas) yang buat PSEL (Kota) Bekasi ini 1.500 ton ekspektasi per hari. Kita ekspektasi juga insyaallah akhir 2027, awal 2028 sudah selesai. Jadi emang kita ngebut lah,” kata Pandu di sela-sela gelaran peresmian pembangunan PSEL Bekasi, Rabu (26/8).
Pandu mengatakan proses pembangunan PSEL Bekasi diupayakan rampung dalam waktu kurang dari 24 bulan, termasuk penyelesaian berbagai proses pendukung seperti perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero).
PSEL Bekasi memiliki nilai investasi sekitar Rp 3 triliun. Proyek ini diproyeksikan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen timbunan sampah terolah di Kota Bekasi.
Dari sisi lingkungan, fasilitas tersebut diproyeksikan mengurangi emisi dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen dan menekan emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun. PSEL Bekasi juga diperkirakan mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga 90 persen.
Selain itu, proyek tersebut ditargetkan menghasilkan energi hijau yang dapat memasok kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah masyarakat Kota Bekasi. Pembangunan PSEL juga diperkirakan menciptakan hingga 1.000 lapangan kerja hijau.
Proyek PSEL Bekasi dikembangkan oleh Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).
Pandu menjelaskan proses pemilihan mitra PSEL Bekasi dilakukan secara selektif. Dalam proses evaluasi pada Januari 2026, terdapat enam konsorsium yang menyerahkan proposal. Setelah melalui evaluasi, hanya dua konsorsium yang lolos dan dilanjutkan ke tahap negosiasi pada Januari hingga Februari 2026.
Selanjutnya, penandatanganan joint venture agreement dilakukan pada Maret 2026, disusul perjanjian kerja sama pada April 2026. Proyek tersebut kemudian ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada Mei 2026.
Dalam proyek ini, Danantara berinvestasi melalui Denera bersama mitranya, Wangneng Environment. Adapun badan usaha pelaksana proyek (BUPP) PSEL Kota Bekasi adalah Bekasi Environment Nusantara.
“(Konsorsiumnya) kita (Danantara) dan Wangneng, (Danantara melalui) perusahaan PT Denera, jadi kita investasi melalui PT Denera. Pak Dirutnya juga di sini, mereka yang akan ngerjain, kita investasi,” ujarnya.
Listrik PSEL Akan Dikembalikan ke Bekasi
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan listrik yang dihasilkan PSEL Bekasi nantinya akan didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kota Bekasi.
Dia menjelaskan, PLN awalnya berencana menyalurkan listrik PSEL ke Gardu Induk. Namun, setelah melihat kebutuhan listrik di Bekasi yang tinggi, PLN menyiapkan Gardu Hubung yang berjarak sekitar 5 kilometer dari lokasi PSEL.
“Karena ini hanya 27 megawatt, dengan terpasang 36, makanya menggunakan tiang listrik biasa ke gardu hubung. Yang gardu hubung itu khususon (atau) spesialis untuk Kota Bekasi,” kata Darmawan dalam kesempatan yang sama.
Dengan skema tersebut, listrik yang dihasilkan dari sampah Kota Bekasi akan kembali dialirkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah tersebut.
Targetkan Pengelolaan Sampah 70-75% pada 2029
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan pembangunan PSEL merupakan bagian dari upaya pemerintah menyelesaikan persoalan sampah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Insyaallah pak, 2029 70-75 persen bisa kita selesaikan sampai yang mulai Indonesia Merdeka sampai hari ini masalah yang terlalu banyak, tapi 2-3 tahun ini bisa kita selesaikan, saya yakin asal bisa kerja sama dengan semua pihak,” tuturnya.
Dia menyebut, apabila sejumlah proyek yang tengah dikerjakan dapat terealisasi, kontribusi pengelolaan sampah yang ditangani melalui proyek-proyek tersebut akan meningkat secara signifikan.
Berdasarkan paparan Zulhas, timbulan sampah Indonesia diproyeksikan mencapai 146.780 ton per hari pada 2029. Dari total tersebut, sekitar 22,5 persen ditargetkan dapat ditangani melalui fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Sementara itu, pengelolaan sampah lainnya akan dilakukan melalui berbagai metode. Pengolahan organik dari sumber ditargetkan menangani 12,4 persen, diikuti TPS3R dan bank sampah sebesar 19,8 persen, serta TPST-RDF yang hasil olahannya dimanfaatkan industri semen sebesar 25,3 persen.
Adapun 20 persen sisanya akan ditangani menggunakan teknologi non-RDF, seperti pirolisis, biogas, dan material recovery facility (MRF).
Gaet TNI AD Olah Sampah La
Selain membangun fasilitas PSEL untuk mengolah sampah baru, pemerintah juga menyiapkan program untuk menangani timbunan sampah lama yang telah menumpuk di sejumlah lokasi.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan TNI AD bersama mitranya tengah menyiapkan pengolahan timbunan sampah lama menggunakan teknologi pirolisis.
Program tersebut dirancang memiliki kapasitas awal sekitar 1.000 ton sampah per hari di setiap lokasi. Untuk satu fasilitas, TNI AD membutuhkan lahan sekitar 5 hektare serta area pretreatment minimal 0,5 hektare.
“Yang kami akan olah adalah timbunan-timbunan sampah lama. Jadi nanti dari sampah lama ini bisa 1.000 ton per hari diproses,” ujarnya.
Bantar Gebang dan Sumur Batu memiliki luas area 110,3 hektare (ha) dengan volume sampah sekitar 7.500-8.000 ton per hari dan timbunan mencapai 60 juta ton. Sementara Galuga memiliki luas 25,2 ha dengan sampah 1.500-1.800 ton per hari dan timbunan 3,65 juta ton.
Sarimukti seluas 38,7 ha menampung 1.100-1.500 ton sampah per hari dengan timbunan sekitar 25 juta ton, sedangkan Jatibarang seluas 46,183 ha menerima 900-1.000 ton sampah per hari dengan timbunan sekitar 3 juta ton.
Maruli mengatakan program tersebut telah dipersiapkan sejak April 2026 berdasarkan arahan Presiden. Menurut dia, jika persoalan lahan dan perizinan dapat diselesaikan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah lama ditargetkan dapat berjalan dalam waktu sekitar satu tahun.
“Kalau itu bisa ada lahannya, bagaimana teknis penggunaannya Ini yang mungkin nanti saya akan ulas sedikit, kami bisa segera kerjakan. Jadi itu intinya, masalah pirolisis menjadi bahan bakar itu umum, tapi memilah sampah lama ini ternyata bisa kita lakukan, mudah-mudahan nanti kita kembangkan lagi,” jelasnya.
Dia juga mengatakan kapasitas pengolahan juga masih dapat ditingkatkan jika ada lahan yang lebih luas. Dengan perluasan area pretreatment dan fasilitas pengolahan, kapasitasnya berpotensi mencapai hingga 2.000 ton sampah per hari di setiap lokasi.
“Kita go paling lama satu tahun kalau pabrik sudah siap untuk bisa mengolah sampah 1.000 ton per hari di setiap titik. Kalau pre-treatmentnya bisa dapat lebih besar bisa sampai 1 ha atau pengolahannya bisa lebih dari 5 ha mungkin bisa kejar bisa sampai 2.000 ton per hari setiap sampah,” tuturnya.
Tender Tahap Dua Proyek PSEL Rampung Kuartal IV 2026
Pandu juga memastikan tahap dua tender PSEL di delapan lokasi yang mencakup 20 kabupaten/kota di Indonesia akan rampung pada Kuartal IV 2026.
“Yang 8 itu sekarang ada proses untuk penyelesaian juga buat BPA, segala hal mirip dengan yang sekarang. Ya kita insyaallah Kuartal IV udah selesai,” kata Pandu.
“Jadi cukup cepat sih, itu kurang lebih 4-5 bulan kan perbedaan antara yang fase 1 dan fase 2. Fase 2 nanti juga ada tambahan lagi, ada beberapa kota yang akan kita umumkan juga,” tambahnya.
Sebelumnya Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) resmi menyerahkan Conditional Letter of Award (CLoA) kepada delapan mitra terpilih PSEL tahap kedua pada 20 Juli 2026.
Sebanyak 8 mitra yang menerima CloA tersebut adalah:
Nusantara Energi Hijau Consortium (BGE Sentosa Utama)-Medan Raya
Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni)-Kabupaten Bekasi
Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas)-Lampung Raya
Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE)-Serang Raya
Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd (Veolia)-Semarang Raya
Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS)-Surabaya Raya
MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA)-Bogor Raya 2
Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC)-Yogyakarta Raya.
Khusus wilayah Medan Raya, mitra yang menerima CLoA merupakan Mitra Cadangan yang ditetapkan sebagai Mitra Terpilih sesuai mekanisme seleksi yang telah ditentukan sejak awal. Proses seleksi dilakukan DIM bersama penasihat independen di bidang teknis, hukum, dan komersial dengan mempertimbangkan kredensial Waste-to-Energy, kemampuan finansial, kesiapan implementasi, aspek strategis, hingga pengelolaan risiko.
Proses seleksi diselesaikan dalam waktu kurang dari tujuh pekan. Dari 85 Daftar Peserta Terverifikasi (DPT) yang berasal dari tujuh negara, sebanyak 68 aplikasi diterima untuk delapan lokasi proyek. Empat dari delapan mitra terpilih merupakan konsorsium yang dipimpin perusahaan Indonesia.
Selanjutnya, seluruh mitra terpilih akan memasuki tahap menuju Final Letter of Award, termasuk penyusunan Feasibility Study yang ditargetkan rampung pada pertengahan November 2026. Tahap tersebut dilanjutkan dengan persiapan, perizinan, dan serah terima lahan hingga groundbreaking yang ditargetkan berlangsung pada Desember 2026-Januari 2027.
