Kumparan Logo

PT DSI Sudah Analisis 6.500 Transaksi Ekspor Senilai USD 14 M

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani (kiri) menyampaikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/7/2025). Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani (kiri) menyampaikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/7/2025). Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden

CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sudah menganalisis 6.500 transaksi ekspor sejak Juni 2026 senilai USD 4 miliar.

Rosan mengatakan tujuan adanya PT DSI yakni menciptakan transparansi dari transaksi ekspor komoditas sumber daya alam untuk menekan dan bahkan menghilangkan praktik transfer pricing, under invoicing, dan pelaporan data yang tidak akurat.

PT DSI, kata dia, bekerja sama dengan seluruh kementerian lembaga dan instansi lainnya untuk menggabungkan data-data tersebut ke dalam satu platform, misalnya dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, hingga Bank Indonesia (BI).

"Kami bisa melihat, menganalisa, mengevaluasi setiap harinya dari titik poin mana saja ekspor itu dijalankan, baik dari segi kuantiti, volume, sehingga kita bisa mengetahui secara pasti berapa besarnya dari nilai jumlah, kemudian penerimaan pajaknya, kemudian nilai ekspornya dan yang lain-lain," tutur Rosan saat konferensi pers Nota Keuangan RAPBN 2027, dikutip Sabtu (15/8).

Rosan menegaskan PT DSI belum melaksanakan kegiatan ekspor impor, sehingga seluruhnya masih dilakukan oleh badan usaha atau eksportir. Entitas tersebut kini menjelma sebagai agen penjual.

"Memang kami sejauh ini sudah menganalisa kurang lebih 6.500 transaksi yang ada sejak dari bulan Juni. Dari bulan Juni ada 6.500 transaksi yang jumlahnya kurang lebih USD 14 miliar," ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihak Danantara saat ini tengah mempersiapkan suatu dashboard secara terbuka untuk memonitor sekaligus mengevaluasi semua transaksi ekspor secara detail.

Di sisi lain, Rosan juga menyebutkan bahwa PT DSI akan berkoordinasi dengan Bursa Mineral dan Komoditas yang sedang disiapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dia menilai, bursa akan melayani penjualan mineral sebagai spot market, sementara PT DSI memantau akuntabilitas ekspor tersebut.

"Diharapkan dengan adanya bursa mineral ini transparansi dari transaksi akan menjadi lebih baik, ya, sehingga dari segi akuntabilitas, transparansi, governance akan menjadi lebih baik. Kami pada dasarnya mendukung dengan adanya bursa mineral ini sehingga pembentukan harga ini bisa dilihat oleh semua pihak secara terbuka," tandas Rosan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan PT DSI menemukan potensi tambahan devisa sebesar USD 5 miliar dari pengelolaan tiga komoditas ekspor strategis, yakni batu bara, kelapa sawit, dan besi baja ferro.

PT DSI mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 dengan memonitor tiga komoditas tersebut. Dalam waktu dua bulan 13 hari, Prabowo menyebut PT DSI telah mengelola devisa ekspor senilai USD 14 miliar.

“Dalam waktu dua bulan tiga belas hari, DSI sekarang telah mengelola devisa ekspor senilai USD 14 miliar. Dari hanya tiga komoditas strategis. Lebih dari 6.000 transaksi ekspor tiga komoditas tersebut telah dimonitor oleh DSI,” ungkap Prabowo saat Sidang Bersama MPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8).

Prabowo mengatakan, dari pemantauan terhadap transaksi ekspor, ditemukan potensi tambahan devisa sebesar USD 5 miliar yang berasal dari perbedaan dan penyesuaian harga.

“DSI telah menemukan potensi tambahan USD 5 miliar hanya dari perbedaan dan penyesuaian harga,” ucap Prabowo.

instagram embed