Kumparan Logo

PT SMI Himpun Rp 51 Triliun untuk Proyek Strategis Nasional

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan proyek pembangunan infrastruktur jalur LRT di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan proyek pembangunan infrastruktur jalur LRT di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI sejauh ini berhasil menghimpun dana sebesar USD 3,1 miliar atau sekitar Rp 51 triliun (kurs Rp 16.460 per Dolar AS, pukul 11.00 WIB, Senin 19 Mei 2025).

Himpunan dana tersebut dirancang untuk disalurkan kepada tiga platform pembiayaan untuk kebutuhan proyek strategis nasional.

Adapun tiga platform yang dikelola oleh PT SMI adalah SDG Indonesia One, platform mekanisme transisi energi, serta platform eksplorasi panas bumi.

“Melalui ketiga platform ini, saat ini kami telah mengumpulkan dana sebesar USD 3,1 miliar dengan komitmen yang sudah dikontrakkan sebesar USD 800 juta, dan setengah dari jumlah tersebut (USD 400 juta) sudah direalisasikan,” ucap Kepala Divisi Pengembangan Proyek PT SMI Delano Dalo dalam forum diskusi bersama Bappenas yang dilaksanakan secara daring, Senin (19/5).

Salah satu contoh proyek nyata yang telah didukung adalah pembangunan pembangkit listrik mini hidro yang memanfaatkan skema blended finance dari Inggris.

Ilustrasi - Rumah generator Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/11/2018). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

“Dengan dana dari Inggris sekitar 15 persen dari total biaya proyek, kami meningkatkan kelayakan pembiayaan dari salah satu proyek mini hidro,” tambah Delano.

Ia menjelaskan bahwa pembiayaan tersebut tidak diberikan pada proyek yang tidak bankable karena ada dukungan kegiatan mitigasi risiko dari dana Inggris.

Kemudian, Delano menyatakan bahwa proyek tersebut telah dikunjungi langsung oleh Menteri Inggris baru-baru ini.

“Proyek ini bukan sekadar teori, tetapi merupakan proyek nyata yang terjadi demi dampak yang lebih besar bagi Indonesia serta pembiayaan yang terkait dengan SDG secara global,” ucapnya.

Ia juga menyatakan bahwa dukungan teknis terhadap proyek pembiayaan di Indonesia datang dari berbagai lembaga internasional seperti USAID (U.S Agency for International Development) dan GGI (Greening Government Initiative).

Sementara untuk pendanaan proyek, dana disalurkan melalui AFD (Agence Française de Développement), yang kemudian dilipatgandakan melalui skema sindikasi dengan pemberi pinjaman lainnya.

Menurut Delano, keberadaan platform ini memungkinkan mobilisasi dana dari berbagai mitra global untuk meningkatkan kelayakan proyek-proyek yang sejalan dengan transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Ia pun mengajak seluruh investor di dunia untuk turut serta bergabung dalam pembiayaan proyek-proyek di Indonesia. “Kami mengetahui bahwa dalam lima tahun ke depan, terdapat peluang besar di Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Jadi, silakan bergabung,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Bappenas Putut Hari Satyaka menyatakan bahwa saat ini, Indonesia membutuhkan investasi senilai USD 3,17 triliun di 2025 hingga 2029 agar dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

“Tetapi yang penting adalah bahwa lebih dari 86 persen dari investasi tersebut diperkirakan akan berasal dari sektor swasta,” ucap Putut.

Ia juga menuturkan bahwa bahwa sisanya akan berasal dari dana pemerintah sebesar 7 persen dan 6 persen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

instagram embed