Kumparan Logo

PT Timah Antisipasi Harga Komoditas Tak Lagi Melejit di Tahun Depan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas di pabrik PT Timah (Persero) Tbk (TINS). Foto: PT Timah
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas di pabrik PT Timah (Persero) Tbk (TINS). Foto: PT Timah

PT Timah Tbk (TINS) berhasil membukukan laba sebesar Rp 1,08 triliun atau naik 301 persen pada semester I 2022. Meningkatnya laba bersih didukung karena performa harga jual logam timah selama periode semester 1 2022, dengan rerata harga USD 41.110/Mton.

Sekretaris PT Timah Abdullah Umar Baswedan mengakui bahwa capaian terbaik perusahaan sepanjang sejarah tersebut tak lepas dari harga timah yang sedang melejit. Kendati begitu, dia mengatakan ada andil besar juga pada tata kelola perusahaan yang efisien.

"Permasalahannya bukan karena harga logam, tapi kita sudah mencanangkan efisiensi. Dari efisiensi kita bisa atur cash flow lebih bagus. Jadi kita bisa melunasi utang, jadi biaya utang itu turun kemudian juga kinerja anak perusahaan kita membaik. Kombinasi itu membuat laba kita naik tinggi dibandingkan semester I tahun-tahun sebelumnya," kata Umar pada acara media gathering di Jakarta, Jumat (2/9).

Sekretaris PT Timah Tbk Abdullah Umar Baswedan. Foto: Akbar Maulana/kumparan

Umar mengatakan, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan tren positif ini di tengah ketidakpastian harga timah. Namun dia mengatakan perusahaan terbukti ampuh melewati masa-masa sulit bahkan ketika harga timah jatuh.

"Tantangan berikutnya adalah bagaimana kalau harga logam turun. Kita sudah mengalami harga logam turun sampai USD 15.000, jadi kalau sekarang, kalau masih di atas USD 20.000 Insyaallah masih bisa ditangani," ujarnya.

Produksi Menurun

Kendati berhasil mencatatkan laba mencapai Rp 1,08 triliun, produksi PT Timah pada semester I 2022 justru turun. Produksi bijih timah tercatat sebesar 9.901 ton atau turun 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 11.457 ton. Sementara produksi logam timah turun sebesar 26 persen menjadi 8.805 Mton dari periode semester 1 2021 sebesar 11.915 Mton.

Umar menjelaskan, penurunan produksi itu disebabkan oleh adanya disparitas harga yang dimanfaatkan oleh penambang mitra. Mereka, kata umar, menjual hasil tambang yang seharusnya masuk ke PT Timah ke tempat lain. Selain itu, juga ada penambang-penambang ilegal.

"Kan kita sebetulnya kerja sama kemitraan, kita ada kompensasi. Mereka menambang di lokasi kita kemudian kita bekerja sama lalu ada kompensasi. Tapi karena harga logam naik sangat tinggi kemudian produksi yang dari lokasi induk kita itu enggak masuk ke PT Timah. Karena ada disparitas harga," pungkasnya.